Nur Azmi Wiantina
Institut Daarul Quran Jakarta, Indonesia

Published : 1 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PENERAPAN KONSELING KELOMPOK SELF REGULATION UNTUK MENINGKATKAN EKPRESI EMOSI ANAK AKIBAT POLA ASUH OTORITER di KAMPUNG BOJONG Assyifa Qurotul' Aini; Nur Azmi Wiantina; Putri Rahayu S
Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner Vol. 5 No. 1 Februari 2026: Jurnal Ilmu Pendidikan dan Sains Islam Interdisipliner
Publisher : Yayasan Azhar Amanaa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59944/jipsi.v5i1.789

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh maraknya pola pengasuhan otoriter di Kampung Bojong, Kelurahan Sayar, yang menuntut kepatuhan mutlak tanpa ruang dialog dan kerap menerapkan hukuman sebagai bentuk disiplin. Praktik pengasuhan keras ini berdampak langsung pada terganggunya perkembangan emosional anak, di mana siswa menunjukkan kemampuan yang rendah dalam mengenali emosi diri dan cenderung memendam emosi negatif ( penekanan ) karena takut dihukum. Berdasarkan teori Albert Bandura, kondisi ini mengindikasikan adanya distorsi pada tiga pilar regulasi diri anak, yaitu observasi diri, proses penilaian, dan reaksi diri . Tujuan penelitian ini adalah untuk memperbaiki sistem kontrol emosi anak melalui intervensi layanan konseling kelompok dengan teknik self-regulation . Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling yang fokus pada 10 siswa kelas 5 MIS Mathla'ul Huda yang terindikasi mengalami hambatan ekspresi emosi paling signifikan. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam bersama guru kelas serta orang tua, dan pemanfaatan media visual seni ekspresi berupa topless perasaan ( Jars of Feelings ). Hasil penelitian diproyeksikan untuk melacak dinamika perubahan perilaku siswa secara bertahap. Melalui layanan konseling kelompok yang terstruktur, anak-anak dibimbing untuk mengaktifkan kembali fungsi observasi diri dengan memancarkan emosi melalui warna, menyebarkan beban pikiran ( judgement process ), dan mengalihkan emosi negatif menjadi respon positif ( self-reaction ) yang menenangkan, sehingga siswa terdorong untuk berani menyampaikan perasaannya secara adaptif dan sehat.