NMI THE JOURNAL OF Nursing Management Issues
Vol. 3 No. 1 (2025): December Edition 2025

Pemanfaatan ramuan daun sirih (piper betle l.) sebagai pengobatan tradisional pada masyarakat suku bugis dan dampaknya terhadap perilaku pencarian layanan kesehatan

Muhammad Ridha Afdhal (Universitas Negeri Makassar)
Zulkifli Walangadi (Unknown)



Article Info

Publish Date
06 Jun 2026

Abstract

Background: Traditional medicine practices remain heavily prominent across rural Indonesia. Among the Bugis tribe in Kajuara District, Bone Regency, betel leaf (Piper betle L.) preparations are firmly relied upon for initial physical care, which sequentially alters modern healthcare utilization. Purpose: To structurally identify the socio-cultural variables behind the use of betel leaf preparations among the Bugis community in Kajuara District and its multi-level consequences on health seeking behavior. Method: A qualitative descriptive design was employed. Data were gathered through in-depth interviews with 9 key informants, field observations, and documentation in Kajuara District. Results: Culturally, the Bugis community preserves betel leaf use owing to cosmological views of body-nature balance and ancestral pabbura practices. While providing basic antibacterial support, this reliance poses an individual risk of delaying crucial clinical care. Economically, families experience immediate cost efficiency, yet suffer from unstandardized dosage protocols. Structurally, it produces dualistic health behaviors that reduce formal primary health center attendance. Conclusion: Socio-cultural dynamics dictate healthseeking paths in rural Bugis clusters, requiring structured integration between local knowledge systems and objective primary clinical guidelines.   Keywords: Betel Leaf; Bugis Tribe; Health Seeking Behavior; Pabbura.   Pendahuluan: Praktik pengobatan tradisional tetap mendominasi realitas kesehatan masyarakat di wilayah perdesaan Indonesia. Pada masyarakat Suku Bugis, ramuan daun sirih (Piper betle L.) secara konsisten diandalkan sebagai penanganan awal, yang secara sekuensial mengubah utilisasi pelayanan medis modern. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi secara struktural variabel sosial budaya di balik penggunaan ramuan daun sirih pada masyarakat Bugis di Kecamatan Kajuara serta konsekuensi multi-levelnya terhadap perilaku pencarian layanan kesehatan (health seeking behavior). Metode: Desain kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 9 informan kunci, observasi lapangan, dan studi dokumentasi di Kecamatan Kajuara. Hasil: Secara kultural, masyarakat Bugis melestarikan penggunaan daun sirih akibat pandangan kosmologis mengenai keseimbangan alam-tubuh dan praktik pabbura leluhur. Meskipun menyediakan dukungan antibakteri dasar, ketergantungan ini memicu risiko penundaan (delay) penanganan klinis krusial pada tingkat individu. Secara ekonomi, keluarga merasakan efisiensi biaya langsung, namun lemah dalam protokol standarisasi dosis. Secara struktural, fenomena ini melahirkan perilaku kesehatan dualistik yang mereduksi angka kunjungan Puskesmas formal. Simpulan: Dinamika sosial budaya mendikte jalur pencarian kesehatan di klaster perdesaan Bugis, sehingga memerlukan integrasi terstruktur antara sistem pengetahuan lokal dan panduan klinis primer yang objektif.   Kata kunci: Daun Sirih; Suku Bugis; Perilaku Pencarian Kesehatan; Pabbura.

Copyrights © 2025






Journal Info

Abbrev

nmi

Publisher

Subject

Health Professions Public Health

Description

Jurnal penelitian dibidang kesehatan meliputi kegiatan manajemen pelayanan kesehatan dibidang: promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif pada semua tingkat usia baik secara individu, kelompok. Manajemen pelayanan kesehatan di Rumah Sakit, Puskesmas, dan lembaga pelayanan kesehatan. Terbit 2 ...