Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

EDUKASI KESEHATAN BERBASIS DAGUSIBU UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN OBAT YANG BAIK DAN BENAR Irfan Kurniawan; Mujtahidah Mujtahidah; Andi Atssam Mappanyukki; Muhammad Ridha Afdhal; Muh Afdhal
Jurnal Abdimas Indonesia Vol 7, No 2 (2025): JURNAL ABDIMAS INDONESIA
Publisher : Universitas Muhammadiyah Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26751/jai.v7i2.3052

Abstract

Rendahnya literasi masyarakat mengenai pengelolaan obat yang benar masih menjadi isu penting, khususnya di Kelurahan Balocci Baru, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep. Hambatan ini dipicu oleh akses terbatas terhadap layanan kesehatan yang cukup jauh dari pemukiman dan minimnya tenaga kefarmasian, yang hanya terdiri dari satu apoteker dan satu tenaga vokasi. Sebagai respon, dilakukan kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan pemahaman warga terkait pengelolaan obat melalui edukasi konsep DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang Obat dengan Benar). Kegiatan ini menggunakan pendekatan Participatory Rural Appraisal (PRA) yang mendorong keterlibatan masyarakat secara aktif pada setiap tahapan, terutama saat sesi edukasi berlangsung. Materi disampaikan secara interaktif melalui presentasi visual, pembagian leaflet edukatif, dan pemasangan poster di fasilitas kesehatan setempat. Evaluasi dilakukan menggunakan instrumen pre-test dan post-test dengan 10 soal pilihan ganda. Hasil menunjukkan adanya peningkatan skor rata-rata dari 55 menjadi 80 setelah edukasi (p 0,05). Diskusi dua arah turut memperkuat partisipasi peserta. Intervensi ini terbukti mampu meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengelolaan obat yang rasional dan menjadi langkah awal dalam membangun kesadaran kolektif akan pentingnya penggunaan obat secara aman dan tepat.
Analisis Persepsi Masyarakat Terhadap Ketersediaan Infrastruktur Pengelolaan Sampah: Studi Kualitatif di Kota Makassar Dicky Indirwan; Andi Pramesti Ningsih; Muhammad Ridha Afdhal
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i2.56617

Abstract

Krisis pengelolaan sampah di kawasan perkotaan seringkali bersumber dari ketiadaan infrastruktur yang memfasilitasi perubahan perilaku masyarakat. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis deskriptif ini bertujuan mengeksplorasi persepsi masyarakat terhadap ketersediaan infrastruktur pengelolaan sampah di Kota Makassar. Melibatkan 24 informan dari Kecamatan Panakkukang dan Manggala melalui purposive sampling, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan model interaktif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa persepsi negatif dan skeptisisme masyarakat berakar kuat pada defisit infrastruktur fisik dan inkonsistensi pelayanan publik, yang termanifestasi dalam tiga konklusi utama. Pertama, inisiasi pemilahan sampah rumah tangga mengalami stagnasi akibat ketiadaan sarana pewadahan terpilah dan minimnya literasi lingkungan di struktur sosial terbawah. Kedua, ketidakandalan frekuensi armada pengangkut memicu krisis kepercayaan yang mendorong praktik penanganan maladaptif seperti pembakaran terbuka dan pembuangan ilegal. Ketiga, optimalisasi Bank Sampah terhambat oleh aksesibilitas; meskipun insentif material efektif memancing minat warga, jarak fasilitas yang jauh mengubah partisipasi menjadi beban. Disimpulkan bahwa niat baik partisipasi masyarakat tidak akan terwujud menjadi perilaku pro-lingkungan yang menetap tanpa adanya reformasi tata kelola yang mendekatkan infrastruktur fisik ke dalam ekosistem sosial warga.
Pemanfaatan ramuan daun sirih (piper betle l.) sebagai pengobatan tradisional pada masyarakat suku bugis dan dampaknya terhadap perilaku pencarian layanan kesehatan Muhammad Ridha Afdhal; Zulkifli Walangadi
THE JOURNAL OF Nursing Management Issues Vol. 3 No. 1 (2025): December Edition 2025
Publisher : Published by: Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/nmi.v3i1.3437

Abstract

Background: Traditional medicine practices remain heavily prominent across rural Indonesia. Among the Bugis tribe in Kajuara District, Bone Regency, betel leaf (Piper betle L.) preparations are firmly relied upon for initial physical care, which sequentially alters modern healthcare utilization. Purpose: To structurally identify the socio-cultural variables behind the use of betel leaf preparations among the Bugis community in Kajuara District and its multi-level consequences on health seeking behavior. Method: A qualitative descriptive design was employed. Data were gathered through in-depth interviews with 9 key informants, field observations, and documentation in Kajuara District. Results: Culturally, the Bugis community preserves betel leaf use owing to cosmological views of body-nature balance and ancestral pabbura practices. While providing basic antibacterial support, this reliance poses an individual risk of delaying crucial clinical care. Economically, families experience immediate cost efficiency, yet suffer from unstandardized dosage protocols. Structurally, it produces dualistic health behaviors that reduce formal primary health center attendance. Conclusion: Socio-cultural dynamics dictate healthseeking paths in rural Bugis clusters, requiring structured integration between local knowledge systems and objective primary clinical guidelines.   Keywords: Betel Leaf; Bugis Tribe; Health Seeking Behavior; Pabbura.   Pendahuluan: Praktik pengobatan tradisional tetap mendominasi realitas kesehatan masyarakat di wilayah perdesaan Indonesia. Pada masyarakat Suku Bugis, ramuan daun sirih (Piper betle L.) secara konsisten diandalkan sebagai penanganan awal, yang secara sekuensial mengubah utilisasi pelayanan medis modern. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi secara struktural variabel sosial budaya di balik penggunaan ramuan daun sirih pada masyarakat Bugis di Kecamatan Kajuara serta konsekuensi multi-levelnya terhadap perilaku pencarian layanan kesehatan (health seeking behavior). Metode: Desain kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam terhadap 9 informan kunci, observasi lapangan, dan studi dokumentasi di Kecamatan Kajuara. Hasil: Secara kultural, masyarakat Bugis melestarikan penggunaan daun sirih akibat pandangan kosmologis mengenai keseimbangan alam-tubuh dan praktik pabbura leluhur. Meskipun menyediakan dukungan antibakteri dasar, ketergantungan ini memicu risiko penundaan (delay) penanganan klinis krusial pada tingkat individu. Secara ekonomi, keluarga merasakan efisiensi biaya langsung, namun lemah dalam protokol standarisasi dosis. Secara struktural, fenomena ini melahirkan perilaku kesehatan dualistik yang mereduksi angka kunjungan Puskesmas formal. Simpulan: Dinamika sosial budaya mendikte jalur pencarian kesehatan di klaster perdesaan Bugis, sehingga memerlukan integrasi terstruktur antara sistem pengetahuan lokal dan panduan klinis primer yang objektif.   Kata kunci: Daun Sirih; Suku Bugis; Perilaku Pencarian Kesehatan; Pabbura.