Penelitian ini mengkaji implementasi program literasi keagamaan sebagai strategi pendidikan multikultural di sekolah dengan latar belakang siswa yang beragam secara agama. Program yang dilaksanakan setiap hari Kamis ini lahir dari proses evaluasi terhadap efektivitas ceramah agama dua minggu sekali, yang kemudian bertransformasi menjadi kegiatan literasi keagamaan mingguan yang lebih kontekstual dan responsif terhadap kebutuhan nyata siswa. Bagi siswa Muslim, program ini mencakup pembelajaran membaca Al-Qur'an dengan sistem pengelompokan berdasarkan kemampuan (differentiated instruction), metode tutor sebaya, shalat Dhuha berjamaah, serta pembacaan Surah Yasin dengan metode talaqqi. Sementara bagi siswa Kristen, diterapkan pendekatan partisipatif di mana siswa secara bergantian memimpin ibadah, membaca Alkitab, dan menyampaikan refleksi. Hasil kajian menunjukkan bahwa program ini tidak hanya meningkatkan kemampuan literasi keagamaan, tetapi juga menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan universal seperti saling menghormati, menghargai perbedaan, dan melarang tindakan mengolok-olok sesama, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an Surah al-Hujurat ayat 11. Keberhasilan program ini ditopang oleh kepemimpinan kolaboratif antara kepala sekolah, guru PAI, dan guru PAK dalam pengambilan keputusan yang inklusif. Penelitian ini menegaskan bahwa culturally responsive pedagogy yang berangkat dari kebutuhan nyata siswa mampu menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, inklusif, dan berkeadilan bagi semua siswa lintas agama.
Copyrights © 2026