Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan memahami faktor-faktor yang memengaruhi stres pada ibu rumah tangga yang tidak bekerja dan memiliki anak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk menggali pengalaman subjektif partisipan secara mendalam. Data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara terstruktur terhadap tiga ibu rumah tangga berusia 23–52 tahun yang mengalami stres dalam menjalankan peran domestik. Setiap partisipan diwawancarai dalam empat kali pertemuan yang mencakup tahap membangun rapport, penggalian data, serta verifikasi informasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stres pada ibu rumah tangga dipengaruhi oleh beberapa faktor utama, yaitu beban pekerjaan rumah tangga yang monoton dan berulang, kurangnya dukungan serta apresiasi dari suami, tekanan sosial dari lingkungan, dan karakteristik kepribadian individu. Ketiga partisipan mengungkapkan bahwa tugas rumah tangga yang terus-menerus, seperti mencuci, menyetrika, dan mengasuh anak, menimbulkan kejenuhan serta kelelahan fisik dan emosional. Selain itu, kurangnya dukungan emosional dari pasangan memperburuk kondisi stres yang dialami. Faktor kepribadian, seperti sifat sensitif, mudah cemas, dan kecenderungan berpikir berlebihan, turut meningkatkan kerentanan terhadap stres. Sebaliknya, dukungan sosial yang memadai dari suami dan keluarga terbukti membantu mengurangi tekanan psikologis dan meningkatkan kemampuan coping. Strategi yang digunakan partisipan untuk mengatasi stres meliputi bersantai, berkumpul dengan teman, menonton film, serta bermain bersama anak. Temuan ini sejalan dengan teori stres Lazarus dan Folkman yang menekankan bahwa stres muncul ketika tuntutan lingkungan dipersepsikan melebihi kemampuan individu untuk mengatasinya. Dukungan sosial berperan penting sebagai faktor protektif dalam mengurangi stres pada ibu rumah tangga.
Copyrights © 2026