Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna pengeluaran rumah tangga pasca pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditinjau dari perspektif akuntansi keperilakuan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi untuk menggali pengalaman dan pemaknaan orang tua sebagai penerima manfaat program. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap informan yang memiliki anak penerima MBG di sekolah. Analisis data dilakukan dengan memahami pengalaman, persepsi, dan kebiasaan pengeluaran rumah tangga yang muncul setelah program berjalan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Program MBG belum mampu mengurangi pengeluaran rumah tangga, khususnya pengeluaran orang tua untuk kebutuhan anak di sekolah. Orang tua tetap memberikan uang belanja, tabungan, maupun biaya tambahan lainnya karena pengeluaran tersebut telah menjadi kebiasaan dalam pola pengasuhan keluarga. Keputusan ini didasarkan pada pertimbangan emosional, sosial, dan persepsi bahwa uang saku memiliki fungsi yang berbeda dengan makanan yang diberikan sekolah. Orang tua memandang MBG hanya sebagai bantuan tambahan atau pelengkap kebutuhan anak, bukan sebagai pengganti tanggung jawab ekonomi keluarga. Bantuan dalam bentuk makanan seperti MBG dinilai tidak memberikan dampak langsung terhadap kondisi ekonomi rumah tangga karena tidak meningkatkan pendapatan maupun mengubah arus kas keluarga. Efektivitas bantuan pemerintah dalam mengurangi pengeluaran rumah tangga dipengaruhi oleh persepsi masyarakat terhadap bentuk bantuan yang diterima.
Copyrights © 2026