Historiografi gerejawi secara struktural didominasi sumber tertulis institusional sehingga pengalaman iman komunitas akar rumput, khususnya gereja-gereja lokal di wilayah misi Indonesia yang minim infrastruktur pengarsipan, nyaris tidak terwakili dalam narasi sejarah gereja. Namun demikian, belum ada kajian yang secara sistematis membahas posisi epistemologis oral history dalam kerangka penelitian eklesiologi dengan mempertimbangkan secara serentak dimensi historis, teologis, dan metodologisnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan instrumen lembar pencatatan data literatur dan matriks perbandingan konseptual, dianalisis melalui model historis-kritis dan analisis konseptual. Tujuannya mengkaji posisi epistemologis oral history dalam historiografi gerejawi serta merumuskan rekomendasi metodologis bagi peneliti eklesiologi di konteks keterbatasan sumber tertulis. Kebaruan penelitian ini terletak pada pembedaan tegas antara oral history dan oral tradition, penelusuran preseden historis sejak era patristik, serta integrasi perspektif dekolonisasi historiografis dalam kerangka penelitian eklesiologi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa oral history merupakan sumber primer yang epistemologis sah dan instrumen metodologis yang bersifat konstitutif bagi rekonstruksi sejarah komunitas gereja yang tidak terdokumentasikan, dengan prasyarat kritik sumber yang ketat, triangulasi metodologis sistematis, dan pertimbangan etika penelitian yang cermat.
Copyrights © 2026