Krisis kepemimpinan yang ditandai dengan kurangnya integritas, etika, dan perilaku teladan menjadi tantangan besar di dalam organisasi, terutama di lembaga pendidikan dan pemerintahan. Banyak pemimpin dianggap tidak mampu menjalankan perannya sebagai teladan moral, spiritual, dan sosial. Dalam konteks ini, kepemimpinan kenabian muncul sebagai model yang relevan yang mengintegrasikan nilai-nilai kenabian ke dalam praktik modern. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kepemimpinan kenabian guru Pendidikan Agama Islam dalam membentuk karakter mulia siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Temuan menunjukkan bahwa bentuk-bentuk transendensi yang ditunjukkan oleh guru meliputi spiritualitas, kejujuran, kesabaran, ketakwaan, rasa puas, kepercayaan kepada Allah, dan rasa syukur, yang diinternalisasi melalui pengajaran dan perilaku teladan sehari-hari. Dampaknya terlihat pada peningkatan disiplin keagamaan siswa, kejujuran, tanggung jawab, pengendalian emosi, kemampuan membedakan informasi, dan rasa syukur dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, kepemimpinan kenabian guru Pendidikan Agama Islam memberikan kontribusi yang signifikan terhadap pembentukan karakter mulia siswa, sehingga menumbuhkan karakter religius, etika luhur, dan landasan yang berakar pada nilai-nilai Islam.
Copyrights © 2026