Terjadinya penurunan anggaran sektor pendidikan di dalam RAPBN 2001 mendapat tanggapan yang bervariasi, khususnya dari para pengamat dan praktisi pendidikan. Meski ada yang bernada positif, tetapi sebagian besar tanggapan cenderung negatif; misal dengan mempertanyakan mengapa pemerintah tidak mau mengalokasi dana pendidikan dalam porsi yang cukup, mengapa pemerintah jus-tru menurunkan anggaran pendidikan, mengapa pemerintah kurang peka terhadap keinginan untuk membangun bangsa ini dalam jangka panjang, dan pertanyaan-pertanyaan lain yang senada.     Pertanyaan yang paling mendasar ialah, benarkah pendidikan itu penting? Sudah barang tentu "ekor" dari pertanyaan ini ialah, kalau memang pendidikan itu penting mengapa anggaran pendidikan kita tidak ditingkatkan secara proporsional tetapi justru diturunkan nilainya oleh pengambil kebijakan.      Seperti kita ketahui, kalau dibandingkan dengan APBN 2000 yang masih berjalan sekarang ini maka anggaran pendidikan dalam RAPBN 2001 tidak mengalami kenaikan akan tetapi justru mengalami penurunan yang cukup signifikan.      Di dalam konstruksi APBN 2000, sektor pendidikan menerima anggaran sebesar 12,850 triliun rupiah, baik untuk anggaran rutin maupun anggaran pengembangan; sementara itu di dalam konstruksi RAPBN 2001, sektor pendidikan hanya memperoleh alokasi anggaran sebesar 11,310 triliun rupiah, baik untuk anggaran rutin maupun anggaran pengembangan. Dengan demikian penurunannya mencapai 1,540 triliun rupiah, atau apabila dipersentase nilai penurunannya mencapai 12 persen.
Copyrights © 2000