Politik identitas menjadi salah satu fenomena penting dalam perkembangan demokrasi Indonesia pasca-Reformasi. Penggunaan identitas agama, budaya, dan kelompok sosial dalam pemilu menunjukkan bahwa kontestasi politik tidak hanya berkaitan dengan program kerja kandidat, tetapi juga melibatkan kedekatan emosional dan simbolik dengan masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis perkembangan politik identitas dalam pemilu Indonesia serta peran institusi budaya dan institusi keislaman dalam memengaruhi orientasi politik masyarakat. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Data diperoleh dari jurnal ilmiah, buku akademik, dan artikel penelitian yang relevan dengan tema politik identitas, demokrasi elektoral, media digital, serta institusi sosial keagamaan di Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis isi melalui pengkajian dan perbandingan berbagai hasil penelitian sebelumnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa politik identitas masih memiliki pengaruh dalam pemilu Indonesia meskipun pola penggunaannya mengalami perubahan. Pada Pemilu 2014 dan 2019, penggunaan isu agama dan polarisasi sosial terlihat lebih dominan, sedangkan pada Pemilu 2024 politik identitas berkembang melalui pendekatan simbolik, budaya, dan kedekatan dengan tokoh agama. Institusi keislaman dan institusi budaya memiliki peran penting sebagai mediator sosial dalam membentuk orientasi politik masyarakat serta menjaga legitimasi politik kandidat. Perkembangan media digital juga memperkuat penyebaran politik identitas dalam ruang publik Indonesia.
Copyrights © 2026