Curah hujan dan jumlah hari hujan di Kabupaten Manggarai Barat relatif rendah. Curah hujan terendah pada Juni (5 mm) dan tertinggi pada Desember (232 mm) per tahun. Jumlah hari hujan terendah (1 mm) pada Juli dan tertinggi (18 mm) pada Februari. Masyarakat Desa Waesano, Kecamatan Sanonggoang, Kabupaten Manggarai Barat, juga tidak dapat memanfaatkan air Danau Sanonggoang seluas 513 hektare yang melimpah karena kadar belerang yang tinggi. Oleh karena itu, mereka memanfaatkan air dari mata air di Bentang Alam Mbeliling untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Di desa itu tidak ada satu pun warga yang memiliki sumur. Masyaraiat setempat memiliki beragam kearifan lokal untuk menjaga mata air yang jumlahnya mencapai 29 dan tersebar di berbagai lokasi. Beberapa kearifan lokal itu antara lain penanaman spesies yang mampu menjaga air seperti bancang, lokom (Syzygium sp.), koweng, dan ruteng (Ficus benjamina). Mereka melarang penanaman beberapa spesies seperti pohon gamal (Gliciridia sepium) dan ampupu (Eucalyptus urophylla) di dekat mata air karena menyebabkan volume dan debit air berkurang. Warga Desa Waesano melakukan nacaripu kepanjangan dari nempung cama riang puar (kata nempung berarti musyawarah, cama berarti bersama-sama, riang bermakna menjaga, dan puar berarti hutan). Secara harfiah istilah nempung cama riang puar itu bermakna musyawarah antara warga Desa Waesano untuk bersama-sama menjaga hutan Sesok yang menyimpang banyak sumber mata air.
Copyrights © 2025