Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Kearifan Lokal Pemanfaatan Mata Air di Desa Waesano, Kecamatan Sanonggoang, Kabupaten Manggarai Barat Sardi Duryatmo; Sarwititi Sarwoprasodjo; Didik Suharjito
Jurnal Penelitian Sosial Ilmu Komunikasi Vol. 9 No. 2 (2025): Volume 9 No 2 Tahun 2025
Publisher : Universitas Pakuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33751/jpsik.v9i2.16

Abstract

Curah hujan dan jumlah hari hujan di Kabupaten Manggarai Barat relatif rendah. Curah hujan terendah pada Juni (5 mm) dan tertinggi pada Desember (232 mm) per tahun. Jumlah hari hujan terendah (1 mm) pada Juli dan tertinggi (18 mm) pada Februari. Masyarakat Desa Waesano, Kecamatan Sanonggoang, Kabupaten Manggarai Barat, juga tidak dapat memanfaatkan air Danau Sanonggoang seluas 513 hektare yang melimpah karena kadar belerang yang tinggi. Oleh karena itu, mereka memanfaatkan air dari mata air di Bentang Alam Mbeliling untuk memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Di desa itu tidak ada satu pun warga yang memiliki sumur. Masyaraiat setempat memiliki beragam kearifan lokal untuk menjaga mata air yang jumlahnya mencapai 29 dan tersebar di berbagai lokasi. Beberapa kearifan lokal itu antara lain penanaman spesies yang mampu menjaga air seperti bancang, lokom (Syzygium sp.), koweng, dan ruteng (Ficus benjamina). Mereka melarang penanaman beberapa spesies seperti pohon gamal (Gliciridia sepium) dan ampupu (Eucalyptus urophylla) di dekat mata air karena menyebabkan volume dan debit air berkurang. Warga Desa Waesano melakukan nacaripu kepanjangan dari nempung cama riang puar (kata nempung berarti musyawarah, cama berarti bersama-sama, riang bermakna menjaga, dan puar berarti hutan). Secara harfiah istilah nempung cama riang puar itu bermakna musyawarah antara warga Desa Waesano untuk bersama-sama menjaga hutan Sesok yang menyimpang banyak sumber mata air.
Narrative-Driven Optimization for Sustainable Museum Networks: Integrating Freytag’s Pyramid and Hybrid PSO-Machine Learning Framework Luki Safriana; Nurhayati; Widiyani; Didik Suharjito
Advance Sustainable Science Engineering and Technology Vol. 7 No. 4 (2025): August-October
Publisher : Science and Technology Research Centre Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/asset.v7i4.1954

Abstract

This study addresses sustainable urban heritage management needs through an AI-optimized methodology for Government-Museum networks. Integrating dramaturgical storytelling with computational intelligence, we develop a framework combining Freytag's Pyramid narrative framework with a hybrid Particle Swarm Optimization (PSO)-Machine Learning (ML) model. This sustainability-driven design aligns spatial routing with low-carbon objectives and thematic continuity, enhancing tourist itineraries while reducing environmental impact. Our model integrates GIS analysis of museum connectivity, accessibility criteria, and emissions indicators. Validated via Orange ML, the PSO-ML model achieves route optimization by minimizing distance, time, and CO₂ emissions. Results demonstrate significantly reduced travel distances/emissions and improved narrative coherence. The paradigm advances geographical justice, operational efficiency, and AI-mobility systems in promoting urban sustainability.