Kunjungan secara resmi Perdana Menteri Australia John Howard ke Indonesia belum lama ini sangatlah menarik dicermati baik secara politis maupun kultural. Secara politis kemenarikan itu antara lain ter-letak pada prioritas kunjungan yang dilakukan oleh seorang "vokalis" ke sebuah negara yang divokalinya. Bisalah dimengerti kalau Presiden Soeharto sempat menyatakan bahwa sebagai dua negara yang mempu-nyai latar belakang sejarah, latar belakang budaya serta sistem sosial dan politik yang berbeda maka wajar saja kalau hubungan Indonesia-Australia pernah mengalami "naik-turun".     Kunjungan John Howard ke Indonesia memang bukan untuk yang pertama kali; akan tetapi merupakan kunjungan perdana sejak yang bersangkutan dilantik menjadi perdana menteri sekitar tiga bulan yang lalu.Dengan demikian secara politis kunjungan tersebut dari kaca mata Howard termasuk penting dan masuk dalam skala prioritas.      Dari sisi kultural ternyata ada pula hal menarik yang perlu dicer-mati; yaitu telah dinyatakannya oleh kedua pemimpin negara tersebut mengenai kedekatan budaya. Kedua pemimpin nampaknya sama-sama menyadari bahwa meskipun antara Indonesia dan Australia memiliki latar belakang kultural yang berbeda akan tetapi perbedaan itu makin lama makin menipis sehingga kedekatan budaya antar dua negara ini makin lama makin terasakan.      Hal tersebut terjadi antara lain karena banyaknya putra-putra In-donesia yang belajar di Australia, atau sebaliknya. Kedua pemimpin negara tersebut secara eksplisit memang sempat membahas banyaknya siswa dan mahasiswa Indonesia yang akhir-akhir ini gencar menuntut ilmu di Australia. Di samping itu banyak pula mahasiswa (dan dosen) Australia yang secara serius mempelajari kebudayaan Indonesia. Kea-daan yang seperti ini hendaknya dapat memberi dampak yang positif bagi kedua negara.
Copyrights © 1996