Penggunaan Large Language Model (LLM) sebagai alat bantu generasi kode (code generation) semakin meluas dalam industri pengembangan perangkat lunak global, namun penelitian empiris yang mengkaji dampaknya terhadap kualitas kode dan produktivitas pengembang dalam konteks metodologi Agile khususnya Extreme Programming (XP) masih sangat terbatas, terutama di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur pengaruh integrasi LLM-assisted code generation terhadap dua variabel utama: defect density (jumlah cacat per 1.000 baris kode) dan produktivitas pengembang (diukur melalui lines of code per jam, waktu penyelesaian fitur, dan waktu perbaikan defect). Desain penelitian menggunakan pendekatan eksperimen kuasi dengan dua kelompok tim pengembang: kelompok eksperimen yang menggunakan GitHub Copilot berbasis GPT-4 Turbo sebagai alat LLM, dan kelompok kontrol yang mengembangkan sistem secara manual tanpa bantuan LLM. Kedua kelompok mengerjakan proyek sistem informasi berbasis web dengan kompleksitas setara menggunakan metodologi XP selama delapan minggu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tim yang mengintegrasikan LLM menghasilkan defect density sebesar 0,87 per KLOC, lebih rendah secara signifikan dibandingkan kelompok kontrol yang mencapai 1,62 per KLOC (penurunan 46,3%). Produktivitas pengembang pada kelompok LLM juga meningkat rata-rata 38,2% dalam hal lines of code per jam dan 31,5% lebih cepat dalam menyelesaikan fitur. Temuan ini memberikan bukti empiris bahwa integrasi LLM dalam siklus Extreme Programming secara statistik signifikan meningkatkan kualitas kode sekaligus produktivitas pengembang, dengan catatan bahwa praktik code review manusia tetap diperlukan untuk mengatasi kerentanan keamanan pada kode yang dihasilkan AI.
Copyrights © 2026