Penenun Sarung Tope Le’leng di Desa Tanah Toa, Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, masih banyak menggunakan alat tenun tradisional yang belum memenuhi prinsip ergonomi. Kondisi kerja tersebut menuntut postur tubuh yang tidak ergonomis, gerakan berulang, dan durasi kerja yang panjang, sehingga meningkatkan risiko terjadinya keluhan musculoskeletal disorders (MSDs). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas redesain alat tenun ergonomis terhadap penurunan keluhan MSDs pada penenun Sarung Tope Le’leng. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif dengan desain quasiexperimental yang melibatkan 30 penenun, terdiri atas kelompok kontrol (n = 15) yang menggunakan alat tenun konvensional dan kelompok intervensi (n = 15) yang menggunakan alat tenun hasil redesain ergonomis. Intervensi dilaksanakan selama 16 hari. Data keluhan MSDs dikumpulkan menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor keluhan MSDs pada kelompok intervensi menurun dari 2,9 ± 0,5 pada awal pengukuran menjadi 1,8 ± 0,4 pada hari ke-16, sedangkan pada kelompok kontrol skor keluhan meningkat dari 1,8 ± 0,6 menjadi 3,2 ± 0,8. Perbedaan keluhan MSDs antara kelompok intervensi dan kontrol menunjukkan perbedaan yang signifikan sejak hari ke-3 hingga hari ke-16 (Z = −5,012; p < 0,001). Selain itu, pada kelompok intervensi terjadi penurunan keluhan MSDs yang signifikan sebelum dan sesudah penggunaan alat tenun hasil redesain (Z = −4,645; p < 0,001). Redesain alat tenun ergonomis efektif dalam menurunkan keluhan MSDs pada penenun Sarung Tope Le’leng. Le’leng Tope sarong weavers in Tanah Toa Village, Kajang District, Bulukumba Regency, still predominantly use traditional looms that do not meet ergonomic principles. These working conditions require non-ergonomic postures, repetitive movements, and prolonged working durations, thereby increasing the risk of musculoskeletal disorders (MSDs). This study aimed to analyze the effectiveness of ergonomic loom redesign in reducing MSD complaints among Le’leng Tope sarong weavers. This study employed a quantitative quasi-experimental design involving 30 weavers, consisting of a control group (n = 15) using conventional looms and an intervention group (n = 15) using ergonomically redesigned looms. The intervention was conducted over a 16-day. MSD complaints were assessed using the validated and reliable Nordic Body Map questionnaire. The results showed that the mean MSD complaint score in the intervention group decreased from 2.9 ± 0.5 at baseline to 1.8 ± 0.4 on day 16, whereas the control group showed an increase from 1.8 ± 0.6 to 3.2 ± 0.8. Differences in MSD complaints between the intervention and control groups were significant from day 3 through day 16 (Z = −5.012; p < 0.001). In addition, a significant reduction in MSD complaints was observed in the intervention group before and after the use of the redesigned loom (Z = −4.645; p < 0.001). Ergonomic redesign of the loom is effective in reducing MSD complaints among Le’leng Tope sarong weavers.
Copyrights © 2025