Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH AIR WUDHU TERHADAP COMPUTER EYES SYNDROME (ASTHENOPIA) PADA KARYAWAN RUMAH SAKIT ISLAM FAISAL KOTA MAKASSAR Mukhaiminah, Ina; Mallapiang, Fatmawaty; Habo Abbas, Sci Hasriwiani
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Vol 14 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.691 KB) | DOI: 10.35892/jikd.v14i1.84

Abstract

Astenopia adalahgangguan yang dialami mata karena otot-ototnya yang dipaksa bekerja kerasterutama saat harus melihat objek dekat dalam jangka waktu lama. Semua aktifitasyang berhubungan dengan pemaksaan otot-otot tersebut untuk bekerja keras,sebagaimana otot-otot yang lain akan bisa membuat mata mengalami gangguan.Gejalanya mata terasa pegal biasanya akan muncul setelah beberapa jam kerja.Pada saat otot mata menjadi letih, mata akan menjadi tidak nyaman atau sakit.Tujuan penelitian ini adalah di ketahuinya pengaruh air wudhu terhadap computer eyes syndrome ( asthenopia ) pada karyawan Rumah Sakit Islam Faisal Kota Makassar. penelitian ini digunakan rancangan penelitianeksperimental: Quasi Experimen. yaitu rancangan eksperimen dengan cara sampel diberikan kuesioner (pengukuran sindrom astenopia) sebelum dan setelah dilakukan treatment (perlakuan) yang terdiri atas dua kelompok yakni: kelompok wudhu, dan kelompok kontrol.Sampel penelitian ini berjumlah 50 karyawan yang menggunakan komputer dan memenuhi kriteria inklusi dan di bagi kedalam dua kelompok. Analisa data menggunakan uji wilcoxon didapatkan p = 0,000 < ? = 0,05 menunjukkan bahwa Ha diterima.untuksyndrome asthenopia sebelum intervensi terapi air wudhu menunjukkan mean rank 0,00 sedangkan untuk syndrome asthenopia sesudah intervensi terapi air wudhu menunjukkan mean rank 0,13.Kelompok kontrol dengan menggunakan uji wilcoxon didapatkan p = 1,000 > ? = 0,05 menunjukkan bahwa Ha diterima.untuk kelompok kontrol karena tidak ada perubahan syndrome asthenopia. Sebelum intervensi air wudhu menunjukkan mean rank 0,00 sedangkan untuk syndrome asthenopia tanpa pemberian intervensi terapi air wudhu tetap menunjukkan mean rank 0,00. Saran saya sebagai peneliti sebaiknya pihak Rumah Sakit Islam Faisal Kota Makassar lebih memperhatikan karyawan yang mengalami syndrome asthenopia untuk meningkatkan kualitas kerja karyawan.
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA (K3) SAAT MELAUT PADA PENANGKAP IKAN DI KELURAHAN LAPPA KECEMATAN SINJAI UTARA Rahman, Irfandi; Mallapiang, Fatmawaty; Fachrin, Suharni A.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Vol 13 No 6 (2019): Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.854 KB)

Abstract

Nelayan penangkap ikan adalah sebuah pekerjaan diatas permukaan perairan, dimana nelayan penangkap ikan berisiko tinggi untuk mengalami Kecelakaan Akibat Kerja ataupun Penyakit Akibat Kerja (Kalalo, 2016, Handayani, 2014, Tjahjanto, 2016, Purwanto, 2014, Putra, 2017, Purwangka, 2013). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penerapan keselamatan kerja saat melaut pada nelayan penangkap ikan di Kelurahan Lappa, dan mengkaji penerapan kesehatan kerja saat melaut pada nelayan penangkap ikan di Kelurahan Lappa. Penelitian ini mengunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Informan penelitian ini sebanyak 6 orang, dengan kriteria nelayan penangkap ikan. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam, telaah dokumen, dan obsevasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keselamatan kerja saat melaut (memiliki pengalaman dan pengetahuan keselamatan, alat-alat keselamatan, penggunaan APD, tidak takabur dan berkata kotor dilaut). Sedangkan kesehatan kerja pada nelayan penangkap ikan saat melaut (memiliki kartu nelayan, kotak P3K, pemeriksaan kesehatan sebelum melaut). Kesimpulan (1) nelayan penangkap ikan memiliki pengetahuan keselamatan, alat-alat keselamatan, penggunaan APD (Alat Pelindung Diri), dan tidak boleh takabur dan berkata kotor dilaut. (2) nelayan penangkap ikan perlu menyiapkan alat kesehatan seperti kotak P3K, kartu nelayan, program penyuluhan kesehatan, dan unit-unit kesehatan untuk nelayan penangkap ikan di Kelurahan Lappa Kecamatan Sinjai Utara Kabupaten Sinjai.
PENGARUH WUDHU DAN STRATEGI 20:20:20 TERHADAP SINDROM ASTENOPIA PADA KARYAWAN PENGGUNA KOMPUTER DI RSUD KOTA MAKASSAR Sukmawati, Sukmawati; Mallapiang, Fatmawaty; ikhtiar, Muh.
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Vol 14 No 1 (2019): Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.264 KB) | DOI: 10.35892/jikd.v14i1.93

Abstract

World Health Organitation (WHO) mencatat angka kejadian astenopia di dunia rata-rata 75% per tahun, sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan dalam meminimalkan kejadian tersebut. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh wudhu dan strategi 20:20:20 terhadap sindrom astenopia pada karyawan pengguna komputer di RSUD Kota Makassar. Rancangan penelitian ini adalah Quasi Experimen yaitu pada 60 responden yang dibagi menjadi tiga kelompok (kelompok wudhu, kelompok strategi 20:20:20 dan kelompok kontrol). Pengambilan sampel dilakukan dengan metode purposive sampling, selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan uji paired t test dengan ? = 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan pada kelompok wudhu pre test mean±SD : 4,25±1,11 dan pada post test mean±SD : 3,00±0,79, dengan perubahan mean±SD 1,25±0,78, demikian halnya pada kelompok strategi 20:20:20, pre test mean±SD : 4,05±0,88 dan post test mean±SD : 2,95±0,88, dengan perubahan mean±SD : 1,10±0,85, ada pengaruh signifikan wudhu dan strategi 20:20:20 (p:0,000) terhadap sindrom astenopia pada karyawan pengguna komputer di RSUD Kota Makassar. Oleh karena itu disarankan kepada pihak manajemen RSUD Kota Makassar untuk menginstruksikan pembudayaan wudhu dan strategi 20:20:20 pada karyawan pengguna komputer, dan juga karyawan pengguna komputer agar menerapkan wudhu secara terjadwal setiap 2 ? 3 jam dan strategi 20:20:20 saat bekerja serta diharapkan kepada karyawan pengguna komputer untuk memperhatikan gejala sindrom astenopia dan dampaknya terhadap kinerja dan kesehatan.
EFEKTIVITAS PEMBERIAN MADU TERHADAP PENINGKATAN KADAR HEMOGLOBIN (Hb) PADA PEKERJA WANITA DI PT. MARUKI INTERNATIONAL INDONESIA Harjuna, Asrul; Mallapiang, Fatmawaty; Idris, Fairus Prihatin
Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis Vol 13 No 6 (2019): Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis
Publisher : STIKES Nani Hasanuddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (331.619 KB)

Abstract

Gizi pada pekerja mempunyai peran penting, terutama dalam rangka meningkatkan disiplin dan produktivitas.Pekerja perlu mendapatkan asupan gizi yang cukup dan sesuai dengan jenis atau beban pekerjaannya. Menurut data ILO (2015) setiap 15 detik, satu orang pekerja meninggal karena kecelakaan atau penyakit dan 153 pekerja mengalami kecelakaan yang berhubungan dengan pekerjaan. Data dari klinik perusahaan PT. Maruki International Indonesia menunjukkan bahwa kunjungan pasien ke klinik perusahaan selama Januari ? Juli tahun 2018 dengan keluhan (demam, sakit kepala, lemas, insomnia, pusing, nyeri dada) berjumlah 387, rata-rata adalah pekerja wanita. Keluhan tersebut memberikan indikasi adanya gejala anemia pada pekerja wanita.Penelitian ini menggunakan jenis penelitian Quasi Eksperiment.Populasi adalah seluruh pekerja wanita pada bagian produksi PT. maruki International Indonesia.Sampel 24 orang yang dibagi ke dalam 4 kelompok (masing ? masing 6 orang).Kelompok dosis rendah (madu 1 sendok), kelompok dosis sedang (madu 2 sendok), kelompok dosis tinggi (madu 3 sendok), dan kelompok kontrol. Data di analisis dengan menggunakan SPSS untuk mendapatkan analisis univariat dan bivariat menggunakan Uji Kolmogorov Smirnov, Uji Paired Sample T-test dan Uji Kruskal-Wallis Test. Hasil penelitian dari 24 responden didapatkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pemberian madu terhadap peningkatan kadar Hemoglobin. Madu dosis rendah (madu 1 sendok) p=0,034 < 0,05, madu dosis sedang (madu 2 sendok) p=0,000 < 0,05, dan madu dosis tinggi (madu 3 sendok) p=0,000< 0,05, sedangkan kelompok kontrol p=0,328 > 0,05. Disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pemberian madu terhadap peningkatan kadar Hemoglobin (Hb) pekerja wanita di PT. Maruki International Indonesia, dan yang paling berpengaruh adalah dosis tinggi (madu 3 sendok). Disarankan agar pekerja wanita rutin mengkonsumsi madu.
Pengetahuan Sikap dan Tindakan Masyarakat di Kelurahan Antang Kec.Manggala RW VI Tentang Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) Kota Makassar Tahun 2015 Sri Ayu Azzahra; Emmi Bujawati; Fatmawaty Mallapiang
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 2 No 3 (2016): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (653.657 KB)

Abstract

Dengue Hemoragic Fever (DHF) is a infection disease that caused by dengue virus transmitted through mosquite bite aedes aegypty, as know together (DHF) is still the infections diseases potential outbreak.                  The purpose of this study to determine knowledge attitudes and actions of people in the village Antang RW VI Kec. find out knowledge attitude and community action in the pillars of the citizens (RW) VI in the the village of Makassar city districts Antang, type of research  descriptive study with a random sample.The results showed enough knowledge of the category of 102 respondents’ (63%), whereas the category of positive attitude as much as 55 respondents’ (34%) , and less action category there were 107 respondents’ (98,1%)The research concloud respondents’ knowledge  in the village Antang pillars of citizens (RW) VI is ‘’Enough’’ and the result can be consderaction for the helath agencies in order to survelance of dengue fever prevention practices and communities to be more concerned about the environment  or do eradication advice mosquitoes (EMA). Key Words : Dengue Hemoragic Fever (DHF), Knowledge, Attitude And Measure 
Gambaran Faktor Psikososial Terhadap Kinerja Pada Petugas Kesehatan di Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar Dewi Ayu Purnama; Muhammad Fais Satrianegara; Fatmawaty Mallapiang
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 3 No 2 (2017): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (631.06 KB)

Abstract

Faktor psikososial telah menjadi perhatian utama dalam kesehatan kerja. Perubahan yang terjadi di dalam pasar tenaga kerja yaitu globalisasi meningkat, kompetisi, fleksibilitas, dan bentuk baru organisasi kerja. Faktor psikososial memilki urgensi tersendiri untuk memperoleh perhatian khusus berkaitan dengan produktifitas dan kinerja petugas kesehatan yang bertugasdi puskesmas.Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran faktor psikososial terhadap kinerja pada petugas kesehatan di Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar.Metode penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif bersifatdeskriptif dengan populasi seluruh petugas kesehatan di Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar sebanyak 55 orang dengan menggunakan pengambilan sampel secara Total Sampling. Data yang terkumpul kemudian dianalisis secara univariat, dan bivariat.Hasil analisa data, menunjukkan bahwa mayoritas petugas kesehatan Puskesmas Kassi-Kassi Kota Makassar mengalami stres berat sebanyak 50.9%, beban berat sebanyak 65.5%, dan lelah ringan sebanyak 67.3% dengan kualitas kinerja baik secara optimal. Hal tersebut menggambarkan bahwa petugas kesehatan mengalami faktor psikososial yang berdampak terhadap kinerja dalam bentuk positif, dan untuk menghasilkan kinerja yang baik perlu diciptakan lingkungan psikososial agar individu merasa nyaman berada dalam kelompok dan organisasinya, menunjukkan, produktifitas tinggi serta peningkatan mutu pekerjaan. Kata Kunci : Faktor Psikososial, Stres Kerja, Beban Kerja, Kelelahan Kerja
Gambaran Kadar Timbal Dalam Urin dan Kejadian Gingival Lead Line Pada Gusi Anak Jalanan Di Flyover Jl. AP. Pettarani Makassar Andi Takwa; Emmi Bujawati; Fatmawaty Mallapiang
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 3 No 2 (2017): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.799 KB)

Abstract

Timbal merupakan polutan udara utama di udara perkotaan selain sulfur dioksida (SO2), nitrogen oksida (NOx), dan karbon monoksida (CO). Dampak paparan timbal terhadap kesehatan adalah kerusakan ginjal, hipertensi, anemia, kerusakan saraf pusat, keguguran janin, menurunkan IQ anak.Kadar timbal yang tinggi dapat dilihat dari gingival lead line.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kadar timbal yang terdapat dalam urine dan kejadian gingival lead line pada gusi anak jalanan di Flyover Jl. Ap. Pettarani Makassar Tahun 2015. Jenis Penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif pengambilan sampel dilakukan dengan metode Purposive Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 22 orang.Dari hasil penelitian menunjukkan responden dengan lama paparan dalam kategori tidak berlebih ada 14 orang diantaranya 11 orang (78. 6%) dengan kadar timbal yang normal dan 3 orang (21. 4%) dengan kadar timbal tinggi. Lama paparan dalam kategori berlebih ada 8 orang diantaranya 5 orang (62. 5%) dengan kadartimbal normal dan 3 orang (37. 5%) dengan kadar timbal tinggi. Untuk responden dengan masa kerja dalam kategori baru ada 19 orang diantaranya 13 orang (68. 4%) dengan kadar timbal norma, dan 6 orang (31. 6) dengan kadar timbal tinggi. Masa kerja dalam kategori lama ada 3 orang diantaranya 3 orang (100%) dengan kadar timbal normal dan 0 orang (0) dengan kadar timbal tinggi. Untuk responden dengan gingival lead line yang memiliki kadar timbal dalam urin dengan hasil normal ada 16 orang untuk diantaranya 0 orang (0%) yang gingival lead line dan 16 orang (100%) yang tidak gingival lead line. Kadar timbal dalam urin dengan hasil yang tinggi ada 6 orang diantaranya 1 orang (16. 7%) yang gingival lead line dan 5 orang (83. 3%) yang tidak gingival lead line. Kata Kunci  : Gingival Lead Line, kadar Timbal Urine.
Gambaran Konsentrasi Karbon Monoksida Dalam Darah (COHb) pada Mekanik General Repair Servis dan Suku Cadang Dealer Otomotif Makassar Syamsuryana Basri; Fatmawaty Mallapiang; Irviani Anwar Ibrahim; Syarfaini Syarfaini; Hasbi Ibrahim; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 3 No 3 (2017): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (668.735 KB)

Abstract

Karbon monoksida (CO) merupakan salah satu komponen pencemar udara yang berasal dari gas buang kendaraan bermotor yang berdampak menurunkan kualitas dan kenyamanan hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran konsentrasi karbon monoksida dalam darah mekanik general repair service dan suku cadang di PT. Hadji Kalla menurut umur, masa kerja, lama kerja, dan kebiasaan merokok. Jenis penelitian ini adalah field research kuantitatif dengan analisa laboratorium dalam darah Mekanik General Repair Service & Suku Cadang PT. Hadji Kalla Makassar dan menjadikan semua populasi sebagai sampel dengan jumlah populasi 23 orang. Responden dalam penelitian ini adalah mekanik bagian General Repair Service & Suku Cadang PT. Hadji Kalla Makassar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mekanik yang memiliki konsentrasi Karbon Monoksida tidak memenuhi syarat yaitu pada umur 23-26 yaitu 4.21% sampai 8.97%. Mekanik yang memiliki masa kerja baru lebih banyak yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat, lama kerja mekanik yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat yaitu 8 jam kerja dibandingkan dengan bekerja selama 7 jam per hari dan kebiasaan merokok juga memdukung tingginya kadar CO dalam darah. Kesimpulan dari penelitian ini dari aspek kelompok umur tertinggi yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah tidak memenuhi syarat adalah kelompok umur 23- 26 tahun, Mekanik yang memiliki masa kerja baru lebih banyak yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat dibandingkan dengan masa kerja yang lama, mekanik yang perokok lebih banyak yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat dibandingkan dengan yang bukan perokok sedangkan Mekanik yang bekerja 8 jam per hari lebih banyak yang memiliki konsentrasi karbon monoksida dalam darah yang tidak memenuhi syarat dibandingkan yang bekerja 7 jam per hari.Kata Kunci : COHb, Karbon Monoksida, Pekerja
Faktor Yang Berhubungan Dengan Keluhan Musculosceletal Disorders (MSDs) pada Penenun Lipa’ Sa’be Mandar di Desa Karama Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar Muhammad Adriansyah; Fatmawaty Mallapiang; Hasbi Ibrahim
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 5 No 2 (2019): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1462.012 KB)

Abstract

Salah satu masalah pada penenun Lipa’ Sa’be adalah keluhan Musculoskeletal Disorders (MSDs) yaitu timbulnya keluhan otot akibat sikap kerja yang tidak ergonomis. Keluhan yang dirasakan yaitu otot leher, bahu, lengan, tangan, jari, punggung, pinggang dan otot-otot bagian bawah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan keluhan MSDs pada penenun Lipa’ Sa’be Mandar di Desa Karama Kecamatan Tinambung Kabupaten Polewali Mandar. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dengan menggunakan pendekatan cross sectional study, dengan populasi 124 orang dan sampel 42 orang yang dipilih secara purposive sampling. Penilaian risiko postur kerja menggunakan metode REBA dan pengukuran tingkat keluhan MSDs menggunakan kuesioner Nordic Body Map. Hasil penelitian menununjukkan bahwa dari 42 responden terdapat 37 (88,1%) dengan risiko postur kerja sedang, dan 5 (11,9%) dengan risiko postur kerja tinggi. Sedangkan untuk keluhan MSDs terdapat 21 (50,0%) yang menderita keluhan MSDs sedang, 11 (26,2%) yang menderita keluhan MSDs ringan, dan 10 (23,8%) yang menderita keluhan MSDs berat. Berdasarkan hasil uji chi-Square menunjukkan adanya hubungan antara keluhan MSDs dengan postur kerja (p value =0,005), umur (p value =0,013), masa kerja (p value =0,002),  lama kerja (p value =0,000), riwayat penyakit (p value =0,000). Oleh karena itu pekerja disarankan untuk beristirahat disaat mulai merasa sakit atau nyeri pada bagian tubuh, dan rajin melakukan peregangan otot saat bekerja. Instansi terkait sebaiknya memberikan penyuluhan mengenai risiko pekerjaan dan tata cara bekerja sesuai dengan prinsip ergonomi.Kata kunci : Penenun Lipa’ Sa’be Mandar, Postur Kerja, Keluhan Musculoscletal Disorders (MSDs), REBA, Nordic Body Map
Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan dari Personal Hygiene dan Sanitasi Terhadap Keluhan Penyakit Kulit di Pulau Badi Kabupaten Pangkep Wahyu Alfat; Andi Susilawaty; Fatmawaty Mallapiang; Munawir Amansyah; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 6 No 1 (2020): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3362.085 KB)

Abstract

Environmental Health Risk Asessment (EHRA) adalah sebuah studi partisipatif untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan higinitas serta perilaku-perilaku masyarakat pada skala rumah tangga. Data yang diperoleh dari studi EHRA akan digunakan untuk menentukan wilayah yang berisiko terhadap penyakit berbasis lingkungan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif observasional, dilakukan di Pulau Badi Kecamatan Liukkang Tupabbiring Kabupaten Pangkep. Dengan jumlah populasi 618 Kepala Keluarga, Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah Multi stage sampling dimana metode ini menggabungkan beberapa metode random sampling yang digunakan seefisien dan seefektif mungkin yaitu proporsional stratified random sampling untuk menentukan sampel disetiap wilayahnya, serta menggunakan metode pengambilan sampel yang kedua yaitu simple random sampling dimana untuk memilih rumah tangga sebagai responden. sehingga jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 64 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah yang berisiko sangat tinggi (kategori 4) berada pada wilayah RW I dan RW V, untuk yang berisiko sedang (kategori 2) berada pada wilayah RW II dan RW IV, dan yang berisiko rendah berada pada wilayah RW III. Sedangkan untuk keluhan Penyakit Kulit dari 64 (100%) responden, yang mengalami kulit kering seperti sisik dan terkelupas 30 (47%) responden, gatal dengan frekuensi berulang 20 (31%) responden, Bentol kemerahan 8 (13%) responden, dan bercak kemerahan 6 (9%) responden. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan bagi kader-kader posyandu serta tenaga kesehatan di Pulau Badi dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang keluhan-keluhan penyakit kulit melalui penyuluhan, dan bagi penduduk perlu meningkatkan kebersihan diri dan menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit kulit. Kata Kunci : EHRA, Penyakit Kulit, Personal Higiene
Co-Authors A. Syamsiah Adha Abdul Majid HR. Lagu Aeni, Syahratul Aeni, Syahtul Ahdarnisal, Ahdarnisal Alimus, Nur Aqidatul Izzah Andi Agus Wahyudi Andi Agustina Suyuti Andi Muhammad Multazam Andi Susilawaty Andi Syamsiah Adha Andi Takwa Annisa ilahi Thaha Asir, Muhammad Faiz Fawwaz Aulia Rahma Ayu Hamid Azriful Azriful Azriful Azriful Azriful Azriful Azriful Azriful Azriful Azriful Azriful Azriful Azriful Azriful Azriful Azriful Azriful, Azriful Azriful iful Azriful Bs. Titi Haerana Dewi Ayu Dewi Ayu Purnama Dwi Putri Nursetyaningsih Dwi Santy Damayati, Dwi Santy Emmi Bujawati Emmi Bujawati Fachrin, Suharni a. Febriani Prastike Fitrah Fitrah, Fitrah Gaffar Rukmady Habibi Habibi . Habibi Habibi Harjuna, Asrul Hasbi Ibrahim Hasbi Ibrahim Hasbi Ibrahim, Hasbi Hasmi Septiani Herlina Herlina Idris, Fairus Prihatin Ikhtiar, Muh. Indriani Lestaluhu Irfandi Rahman Irviani Anwar Ibrahim Ismail, Ahmad La Ode Ismi Aulia Samosir Jayanti, Amalia Juniarsih Jamil Jusriani, Rini Khansaa Afifah M Lilis Widiastuty M.Fais Satrianegara Massakili, Andi Masyitha Muis Muchlis Mubaraq Hamda Muh. Kahfi Muhammad Adriansyah Muhammad Azwar Muhammad Riswal Mukhaiminah, Ina Munawir Amansyah Munawir Amansyah Nilda Alfiyyah Nildawati Nildawati Nildawati Nildawati Nildawati Nildawati Nildawati Nildawati Nildawati Nildawati, Nildawati Nur Fitriyani Arifuddin Nurdiyanah Nurdiyanah Nurfahmiatunnisa, Nurfahmiatunnisa Nurhidayah Purnamasari Purnamasari Nurkhalis A Gaffar Nurul Fadillah Radha, Andi Rakhman, Alfina Sari Ramdani, Rezki Ramisdar, Irma Octaviani Ranti Ekasari Ria Anggraini Rini Jusrian Rini Jusriani Rini Jusriani Rini Jusriani Rini, Rini Jusriani Rukhayya Rizal Sadarang, Rimawati Aulia Insani Safitri, Andi Afriyani Sitti Patimah Sitti Raodhah Sri Ayu Azzahra Sukfitrianty Syahrir sukmawati Sukmawati Sukmawati Surahmawati Surahmawati Suriyanti Suriyanti Syahratul Aeni Syahrul Basri Syamsul Alam Syamsuryana Basri Syarfaini Syarfaini Syarfaini Syarfaini Syarfaini, Syarfaini Syarfani, Syarfani Titi Ismawati Triana Andika Putri Tuhelelu, Ghifari M. Nuh Wahyu Alfat Wardah Wijaya, Dian Rezki` Yessy Kurniati