Gelombang unjuk rasa yang diperankan oleh para guru pada berbagai tempat di tanah air nampaknya makin hari makin dahsyat akhir-akhir ini. Meskipun tidak dilakukan koordinasi secara profesional akan tetapi kenyataan membuktikan kalau satu tempat sudah selesai maka segera disusul di tempat lain; atau bila satu kelompok guru sedang "beristirahat" dalam menjalankan unjuk aksinya segera disusul oleh kelompok yang lainnya.      Keadaan seperti itu tidak saja terjadi di ibu kota Jakarta dan di kota-kota besar lainnya seperti Bandung dan Yogyakarta; tetapi juga sudah merambah di kota-kota yang relatif kecil seperti Purwakarta, Cirebon, Purworejo, Karanganyar, dan sebagainya. Isu yang diangkat pun pada umumnya sama; yaitu sekitar kesejah-teraan bagi pahlawan tanpa tanda jasa serta keseriusan perhatian pemerintah terhadap pendidikan nasional. Para guru yang berunjuk rasa tersebut umumnya mengeluh mengenai rendahnya kesejahteraan yang diterima serta ketidakseriusan pemerintah di dalam menangani masalah-masalah pendidikan.      Tuntutan para guru di dalam berunjuk rasa tersebut pada dasarnya adalah peningkatan kesejahteraan; ada yang minta gajinya dinaikkan 100 persen, ada yang minta penerimaan bersihnya paling tidak sekian ratus ribu rupiah, ada yang minta agar supaya "take home pay" minimalnya naik tiga kali lipat dari apa yang diterima sekarang ini, dan ada yang menuntut agar tunjangan fungsionalnya dinaikkan sama dengan tunjangan fungsional dosen.      Himbauan Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin agar para guru tidak melanjutkan aksi unjuk rasanya nampaknya kurang mendapat perhatian; sepertinya mereka sudah benar-benar bosan menyikapi kondisi yang ada sekarang ini.
Copyrights © 2000