Tulisan saya pada dua harian di Semarang mendapat tanggapan dari Dr. Retmono di bawah titel "Rekrutmen Mahasiswa: Seleksi dan Strategi" (Suara Merdeka, 27/4/92); adapun tulisan saya yang dimaksudkan masing-masing ialah "IKIP Tidak Berani Menaikkan SPP?" (Wawasan, 10/4/92) dan "Program Seleksi Siswa Berprestasi" (Suara Merdeka, 13/4/92). Bila tanggapan balik ini sedikit terlambat mohon dimaafkan oleh karena seringnya tugas di luar daerah yang harus saya lakukan dalam beberapa waktu terakhir ini telah mengurangi kesempatan untuk membuat tulisan ini.        Sebelum sampai pada pembahasan materi saya ingin menyita satu alenia ini untuk mengungkapkan perasaan se-nang saya terhadap tanggapan Pak Retmono; karena dengan demikian saya mendapatkan teman untuk berdialog,terutama mengenai kompleksitas problematika IKIP yang akhir-akhir ini memang banyak dibicarakan orang. Lebih senang lagi karena ternyata teman dialog saya kebetulan adalah seo-rang rektor, rektor IKIP. Terus terang saja, tidak semua rektor berkesempatan dan "berani" berdialog.        Dua permasalahan yang mendapat tanggapan dari Pak Retmono ialah masalah kebijakan penerimaan mahasiswa ba-ru pada IKIP, khususnya IKIP Semarang, dan "keberanian" IKIP untuk menaikkan atau tidak menaikkan SPP bagi maha-siswa barunya nanti. Kalau dirunut lebih jauh kesemuanya ini lebih bertitik tolak pada minat masyarakat terhadap IKIP; oleh karena itulah tulisan ini lebih memfokus pada minat masyarakat terhadap IKIP.
Copyrights © 1992