Remaja sering mengalami keluhan dismenorea, yaitu nyeri haid yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari dan prestasi akademik. Nyeri ini umumnya disebabkan oleh kontraksi otot rahim akibat peningkatan kadar prostaglandin saat menstruasi. Selain faktor biologis, aspek psikologis seperti depresi juga berperan dalam memengaruhi persepsi nyeri dan dapat memperparah gejala dismenore pada remaja. Depresi dapat meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap nyeri haid dan menurunkan toleransi nyeri. Mengingat tingginya prevalensi depresi dan dismenorea di kalangan remaja, penting untuk mengeksplorasi hubungan antara keduanya sebagai dasar untuk mengembangkan strategi manajemen nyeri haid yang lebih holistik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat depresi dengan gangguan dismenore pada remaja. Penelitian dengan desain cross sectional ini melibatkan 166 remaja yang dipilih melalui metode simple random sampling. Instrumen menggunakan DASS (Depression, Anxiety, and Stress Scale) dan WALIDD Score. Penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia 18 tahun (42,2%). Berdasarkan kuesioner yang sudah dibagikan rata-rata responden memiliki tingkat depresi sedang (38,0%) dengan tingkat dismenorea sedang (47,0%). Analisis statistik dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman dengan hasil p value 0.000. Temuan menunjukkan adanya korelasi yang signifikan secara statistik antara tingkat tingkat depresi dengan gangguan dismenore.
Copyrights © 2025