Konsep Integrated Pest Management (IPM) atau Pengendalian Hama Terpadu (PHT) diperkenalkan sebagai strategi pengendalian OPT yang menekankan prinsip pencegahan dan efisiensi penggunaan input sintetis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kinerja komparatif usahatani padi dengan penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) dan non-PHT di Kecamatan Kampar, Provinsi Riau. Kajian difokuskan pada struktur biaya, penerimaan, dan keuntungan untuk menilai kelayakan ekonomi kedua sistem usahatani tersebut. Data dikumpulkan dari 100 petani padi yang terdiri atas 38 petani PHT dan 62 petani non-PHT melalui observasi lapangan dan wawancara terstruktur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usahatani padi berbasis PHT menghasilkan penerimaan lebih tinggi (Rp 6.320.700/ha) dibandingkan non-PHT (Rp 3.362.580/ha). Keuntungan atas biaya total pada PHT sebesar Rp 2.844.115 dengan nilai R/C ratio 1,80, lebih tinggi dibandingkan non-PHT sebesar Rp 1.521.227 dengan nilai R/C ratio 1,52. Komponen biaya utama pada PHT adalah tenaga kerja luar keluarga (15,27%), sedangkan biaya non-tunai lebih besar karena penggunaan kompos dan pestisida nabati buatan sendiri. Temuan ini menunjukkan bahwa penerapan PHT menurunkan penggunaan pestisida sintetis, meningkatkan efisiensi input, dan mendukung keberlanjutan lingkungan. Dengan demikian, usahatani padi berbasis PHT lebih menguntungkan dan layak dikembangkan untuk pertanian berkelanjutan di Kecamatan Kampar.
Copyrights © 2026