Saree : Research in Gender Studies
Vol. 8 No. 1 (2026): Saree: Research in Gender Studies

Whose Kartini? Historiographical Shift and Ideological Contestation in Post-Independence Indonesia

Baiquni Hasbi (Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe)



Article Info

Publish Date
30 Jun 2026

Abstract

This article argues that the intellectual legacy and historiography of Raden Ajeng Kartini have never been neutral. Her figure functions as a key site of ideological contestation, originating in the Dutch colonial era and continuing, particularly since Indonesia’s post-independence period, up to the present day. During the New Order period (1966–1998), for instance, the state ideology of Ibuisme Negara (State Ibuism) portrayed Kartini with maternal characteristics, reducing her to a symbol of obedient domestic womanhood to reinforce the patriarchal state’s authority. However, Kartini’s image shifted dramatically post-reformasi (Reform Era). She has since been reconstructed as an anti-colonial icon and a rebellious intellectual, a shift which culminated in the contemporary era with her reimagining as a cosmopolitan Islamic intellectual. This transformation of her image demonstrates the highly dynamic interplay between gender, nationalism, and religious discourse in shaping post-independence Indonesian identity. Methodologically, this study employs a qualitative systematic literature review of 50 interdisciplinary sources spanning history, feminist theory, postcolonial studies, and media analysis. Through multi-tiered screening and citation chaining, the selection bridges foundational nationalist texts with contemporary critiques. The compiled data are analysed both thematically and chronologically to enable a comparison of her representation across different political eras and cultural media. This critical review concludes that Kartini’s legacy and image continue to undergo significant historiographical contestation and shifts, moving from a maternal narrative toward contemporary interpretations that emphasize Kartini’s intellectual autonomy.   Abstrak Artikel mengkaji narasi sejarah dan warisan pemikiran Raden Ajeng Kartini sebagai arena utama kontestasi ideologi, yang akarnya bisa dilacak sejak era kolonial Belanda dan masih terus berlanjut, khususnya sejak periode pasca-kemerdekaan Indonesia hingga hari ini. Selama periode Orde Baru (1966–1998), misalnya, ideologi negara tentang Ibuisme Negara menggambarkan Kartini dengan karakteristik keibuan. Ibuisme mereduksi Kartini sebagai simbol kepatuhan domestik perempuan demi memperkuat otoritas negara yang patriarkal. Namun secara perlahan, citra Kartini bergeser secara dramatis pasca-Reformasi (Era Reformasi). Sejak saat itu, imej Kartini direkonstruksi sebagai ikon antikolonial dan intelektual subversif, yang berpuncak pada era kontemporer dengan interpretasi dirinya sebagai intelektual Islam yang kosmopolitan. Transformasi citra ini menunjukkan interaksi yang sangat dinamis antara wacana gender, nasionalisme, dan agama dalam membentuk identitas Indonesia pasca-kemerdekaan. Secara metodologis, studi ini menerapkan tinjauan pustaka sistematis kualitatif Systematic Literature Review terhadap 50 sumber interdisipliner yang mencakup bidang sejarah, teori feminis, studi pascakolonial, dan analisis media. Melalui penyaringan bertingkat (multi-tiered screening) dan penelusuran sitasi (citation chaining), seleksi sumber ini menjembatani teks-teks nasionalis mendasar dengan kritik kontemporer. Data yang dihimpun kemudian dianalisis baik secara tematik maupun kronologis untuk memungkinkan perbandingan representasi dirinya di berbagai era politik dan media budaya yang berbeda. Tinjauan kritis ini menyimpulkan bahwa warisan dan citra Kartini terus mengalami kontestasi serta pergeseran historiografis yang signifikan, bergerak dari narasi keibuan menuju interpretasi kontemporer yang menekankan otonomi intelektual Kartini.

Copyrights © 2026






Journal Info

Abbrev

saree

Publisher

Subject

Humanities Education Physics Social Sciences

Description

Saree dalam bahasa Aceh artinya rata, sejajar, dan setingkat. Kata Sare secara filosofis menggambarkan keseimbangan antara laki-laki dan perempuan. Keseimbangan mengacu kepada kolaborasi peran antara laki-laki dan perempuan yang menekankan pada konsep keharmonisan dalam hubungan antara laki-laki dan ...