Artikel ini mengkaji moderasi beragama berdasarkan pengalaman mahasiswa non-Muslim dan mahasiswa Muslim internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) K.H. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Kajian ini berangkat dari kebutuhan untuk membaca bagaimana perguruan tinggi keagamaan Islam mengelola keragaman agama, budaya, dan bahasa dalam kehidupan akademik sehari-hari. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif lapangan dengan wawancara semi-terstruktur terhadap mahasiswa Kristen asal Papua Barat dan mahasiswa Muslim internasional asal Filipina. Data dianalisis secara tematik dengan memakai indikator moderasi beragama Kementerian Agama: komitmen kebangsaan, toleransi, anti-kekerasan, dan akomodatif terhadap budaya lokal. Temuan memperlihatkan bahwa tantangan utama informan bukan penolakan teologis, melainkan hambatan bahasa, penyesuaian budaya, dan adaptasi akademik terhadap mata kuliah bercorak keislaman seperti Bahasa Arab. Para informan merasakan dukungan dosen dan teman sebaya, tidak mengalami diskriminasi, serta memperoleh bantuan aktif dalam penerjemahan dan pembelajaran. Artikel ini menegaskan bahwa moderasi beragama di kampus tersebut hadir sebagai praktik sosial harian, bukan hanya wacana kelembagaan.
Copyrights © 2026