Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna eksistensial yang terkandung dalam lirik lagu “33x” karya Perunggu melalui pendekatan semiotika Roland Barthes serta mengkaitkannya dengan perspektif Akhlak Tasawuf. Lagu “33x” dipilih karena merepresentasikan pengalaman kegelisahan, keterasingan, dan pencarian makna hidup yang relevan dengan kondisi masyarakat modern, khususnya generasi muda. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan semiotika Roland Barthes yang menitikberatkan pada analisis denotasi dan konotasi terhadap tanda-tanda linguistik dalam lirik lagu. Data penelitian berupa penggalan lirik yang mengandung representasi kegelisahan eksistensial, kemudian dianalisis dan diinterpretasikan menggunakan konsep eksistensialisme Søren Kierkegaard serta konsep Akhlak Tasawuf yang meliputi nafs, muhasabah, dan tazkiyatun nafs. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik “33x” merepresentasikan kondisi manusia modern yang mengalami krisis makna, alienasi, dan kegelisahan eksistensial akibat tekanan kehidupan kontemporer. Melalui sistem pemaknaan denotatif dan konotatif, lagu ini tidak hanya menggambarkan kesadaran akan keterbatasan manusia, tetapi juga menawarkan jalan refleksi melalui praktik muhasabah dan dzikrullah. Dalam perspektif Akhlak Tasawuf, subjek lirik berada pada tahap nafs lawwāmah yang ditandai oleh kesadaran diri dan kegelisahan spiritual, kemudian diarahkan menuju nafs muṭma’innah melalui proses tazkiyatun nafs. Dengan demikian, lagu “33x” tidak hanya berfungsi sebagai karya budaya populer, tetapi juga sebagai medium refleksi spiritual yang menghubungkan pengalaman eksistensial manusia dengan nilai-nilai tasawuf Islam.
Copyrights © 2026