Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis dan memetakan transformasi struktural pola komunikasi antarpribadi pada generasi digital di bawah pengaruh budaya ruang virtual, hambatan interaksi langsung, dan pemaknaan kedalaman interpersonal. Materi dan metode. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Data dikumpulkan melalui penelaahan dokumen secara mendalam terhadap 70 teks ilmiah terpilih yang diterbitkan antara tahun 2021 dan 2026 di berbagai basis data akademik nasional dan internasional. Pemilihan data menggunakan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi konseptual, dan materi tekstual yang terkumpul dianalisis melalui Kajian Isi Kontemporer (Content Analysis) menggunakan pengodean kualitatif yang sistematis. Hasil. Ekstraksi struktural menunjukkan bahwa pergeseran dari pesan verbal-nonverbal ke ranah tekstual virtual telah mereduksi isyarat emosional, sehingga memicu miskomunikasi di dunia nyata. Lebih lanjut, dominasi ruang virtual mendorong perilaku phubbing yang mengikis keintiman domestik serta memicu kecemasan sosial akut saat interaksi tatap muka spontan. Generasi digital menunjukkan ketergantungan ekstrem pada teks (88,40%) demi mengontrol presentasi diri di balik layar, yang berdampak langsung pada degradasi kemampuan mendengarkan secara aktif dan empati sosial. Kesimpulan. Budaya ruang virtual dan hambatan interaksi tatap muka secara signifikan membentuk ulang dinamika interpersonal modern. Untuk mencegah individualisme ekstrem dan isolasi emosional, rekonstruksi strategi model literasi komunikasi yang humanis sangat mendesak dilakukan di lingkungan keluarga dan pendidikan demi memulihkan kedalaman makna relasi dan kompetensi sosial tatap muka.
Copyrights © 2026