Kecemasan pada anak prasekolah yang menjalani hospitalisasi merupakan permasalahan global dengan prevalensi yang cukup tinggi. Data WHO tahun 2021 menunjukkan 45% anak usia prasekolah menjalani hospitalisasi, sementara survei UNICEF tahun 2019 mencatat 84% anak mengalami kecemasan selama perawatan. Di Indonesia, data Kementerian Kesehatan RI tahun 2021 menunjukkan 52% anak usia prasekolah dirawat di rumah sakit, dengan sekitar 35% mengalami kecemasan selama hospitalisasi. Kecemasan yang tidak tertangani dapat berdampak jangka pendek maupun jangka panjang terhadap tumbuh kembang anak, termasuk penurunan kemampuan intelektual, sosial, dan fungsi imun. Salah satu upaya yang dapat dilakukan perawat untuk meminimalisir kecemasan tersebut adalah melalui penerapan atraumatic care sebagai pendekatan terapeutik yang bertujuan menghilangkan atau mengurangi distres fisik dan psikologis pada anak dan keluarga selama proses perawatan. Di Ruangan Santa Theresia Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tercatat 641 anak prasekolah menjalani hospitalisasi selama tahun 2023, namun belum terdapat data spesifik mengenai hubungan penerapan atraumatic care dengan kecemasan anak prasekolah di ruangan tersebut. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan penerapan atraumatic care dengan kecemasan anak prasekolah yang mengalami hospitalisasi di Ruangan Santa Theresia Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2024. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional dan teknik purposive sampling. Populasi penelitian adalah seluruh anak prasekolah yang mengalami hospitalisasi dengan rata-rata 53 pasien per bulan, dengan sampel sebanyak 53 responden yang memenuhi kriteria inklusi. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner penerapan atraumatic care sebanyak 26 pernyataan dengan skala Likert 1–3 (Cronbach's alpha 0,96) dan kuesioner kecemasan yang diadaptasi dari Spence Children's Anxiety Scale (SCAS) Preschool Parent Report sebanyak 19 item dengan skala 0–4 (r = 0,87). Analisis data menggunakan uji Fisher Exact Test dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden telah mendapatkan penerapan atraumatic care sebesar 88,7% dan mayoritas tidak mengalami kecemasan sebesar 86,8%. Dari kelompok yang mendapatkan penerapan atraumatic care, sebanyak 86,8% tidak mengalami kecemasan, sedangkan seluruh responden yang tidak mendapatkan penerapan atraumatic care mengalami kecemasan. Uji statistik membuktikan hubungan signifikan antara penerapan atraumatic care dengan kecemasan anak prasekolah dengan nilai p = 0,001 (p<0,05). Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa penerapan atraumatic care yang konsisten dan optimal melalui pelibatan orang tua secara aktif, penciptaan lingkungan rumah sakit yang ramah anak, serta pemberian informasi yang memadai kepada keluarga merupakan strategi esensial dalam mengurangi kecemasan anak prasekolah selama menjalani hospitalisasi.
Copyrights © 2026