Muharram merupakan bulan pertama dalam tahun hijriyah. Dalam menyambut datangnya bulan tersebut, masyarakat Windusengakahan rutin melaksanakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun, diantaranya dengan pembacaan doa awal dan akhir tahun. Tradisi tersebut dinamai Hajat Tutulak. Tujuan penulisan ini adalah untuk memahami bahwa Tradisi Hajat Tutulak dapat dijadikan sebagai penguatan moderasi beragama di Windusengkahan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif, dengan melakukan wawancara dan observasi secara langsung kepada tokoh yang menjadi penanggung jawab tradisi tersebut. Hasil dalam penelitian ini adalah masyarakat penting untuk memiliki sikap moderasi dalam beragama, sehingga mampu mendukung terciptanya bangsa yang damai dan tentram. Salah satu upaya dalam membentuk masyarakat moderat adalah tradisi lokal. Tradisi lokal keagamaan adalah kegiatan yang dapat dilaksanakan dengan berbasis nilai-nilai religius. Tradisi Hajat Tutulak sejalan dengan pandangan keislaman aswaja, yang memandang tradisi lokal keagamaan adalah praktik yang penting dalam menumbuhkan prinsip moderat, toleransi dan keadilan. Masyarakat Windusengkahan memiliki keberagaman dalam pemahaman agama, status sosial, dan generasi. Namun dalam pelaksanaan tradisi ini, mampu menjadi ruang untuk menjadikan perbedaan tersebut tidak lagi menjadi sumber permasalahan. Melainkan, menemukan kesamaan yang mampu mempersatukan serta menguatkan persaudaraan. Penerapan moderasi beragama dalam tradisi ini melalui kerja sama, gotong royong, adil dalam berbagi, tidak membedakan suatu golongan, serta menumbuhkan empati sosial.
Copyrights © 2024