Fenomena balap liar merupakan salah satu bentuk gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat yang masih terjadi di Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Satuan Samapta Polresta Bandung membentuk Tim Si Jalak Presisi sebagai strategi komunikasi preventif. Penelitian ini bertujuan menganalisis alasan pemilihan Tim Si Jalak Presisi sebagai strategi komunikasi preventif, strategi komunikasi yang dijalankan, serta kontribusi public sector branding dalam membentuk persepsi publik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi terhadap sepuluh informan, kemudian dianalisis menggunakan model analisis data interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tim Si Jalak Presisi dipilih karena pendekatan represif dinilai belum mampu menangani balap liar secara optimal sehingga diperlukan pendekatan yang lebih komunikatif dan preventif. Strategi komunikasi dilakukan melalui pendekatan humanis, patroli dialogis, pemanfaatan media komunikasi, serta penyampaian pesan yang disesuaikan dengan karakteristik sasaran sehingga meningkatkan pengetahuan, kepercayaan, dan partisipasi masyarakat, meskipun perubahan perilaku pelaku balap liar masih bersifat situasional. Selain itu, public sector branding melalui identitas "Si Jalak" memperkuat strategi komunikasi dengan membangun pengenalan, kedekatan emosional, dan persepsi positif masyarakat terhadap kepolisian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Tim Si Jalak Presisi merupakan strategi komunikasi preventif yang didukung oleh public sector branding dalam upaya pencegahan balap liar.
Copyrights © 2026