Latar Belakang: Stunting merupakan masalah gizi kronis yang masih menjadi beban kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara. Faktor sosial budaya memainkan peran sentral dalam membentuk praktik perawatan anak yang berdampak langsung pada risiko stunting, namun mekanisme konstruksi makna di balik praktik tersebut belum banyak dieksplorasi secara mendalam. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menginterpretasi makna sosial budaya yang melatarbelakangi praktik perawatan anak dan pencegahan stunting pada keluarga balita di Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan metode purposive sampling. Informan berjumlah sepuluh orang, terdiri atas ibu balita, ayah, nenek, bidan, dan tokoh masyarakat. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis data mengacu pada model Miles dan Huberman dengan dukungan triangulasi sumber dan triangulasi metode sebagai uji keabsahan data. Hasil: Ditemukan delapan tema utama, yaitu: (1) makna sehat berbasis fungsional; (2) nilai budaya dalam pemberian makan anak; (3) pantangan makanan berdasarkan kepercayaan lokal; (4) dinamika peran ibu, ayah, dan nenek; (5) pengaruh tokoh masyarakat terhadap perilaku keluarga; (6) pola pemanfaatan Posyandu; (7) hambatan keluarga dalam pencegahan stunting; serta (8) strategi ketahanan kesehatan balita. Pantangan makanan hewani dan pemberian makanan pendamping ASI sebelum usia enam bulan menjadi praktik dominan yang dipengaruhi oleh kepercayaan antargenerasi. Kesimpulan: Konstruksi makna sosial budaya secara signifikan membentuk praktik perawatan anak yang berisiko terhadap terjadinya stunting. Intervensi berbasis budaya dengan melibatkan tokoh masyarakat dan tenaga kesehatan diperlukan untuk mengubah perilaku pengasuhan secara berkelanjutan.
Copyrights © 2024