Penelitian ini mengkaji persepsi masyarakat terhadap tradisi Ngamuan Gunung Perak dalam upacara pernikahan adat suku Dayak Ma’anyan di Kecamatan Gunung Bintang Awai, Kabupaten Barito Selatan, Kalimantan Tengah. Gunung Perak merupakan elemen ritual paling signifikan dalam pernikahan adat Dayak Ma’anyan, berbentuk menyerupai pohon kehidupan yang dihiasi uang kertas, koin, dan ornamen berwarna emas, putih, dan perak, serta melambangkan rasa syukur, penggenapan sumpah (Antuhan), dan doa bagi kemakmuran serta keharmonisan pengantin baru. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologis untuk memahami bagaimana masyarakat mengalami dan mengaitkan makna dengan tradisi tersebut. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan informan kunci, yaitu mantan pemimpin adat (Mantir Adat), anggota kelompok tari tradisional, dan pasangan yang telah menjalani upacara Gunung Perak, didukung observasi dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model interaktif Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan, dengan triangulasi sumber untuk menjaga validitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Gunung Perak menempati kedudukan sebagai puncak hukum pernikahan adat, baik dari struktur fisik dan makna simbolisnya maupun dari peran sentral Wadian dan Mantir Adat dalam menjaga keasliannya. Penelitian ini juga mengungkap perbedaan persepsi antargenerasi: generasi tua memandangnya sebagai kewajiban sakral, sementara generasi muda lebih memaknainya sebagai simbol identitas budaya. Tradisi ini turut menghadapi ancaman dari pengaruh budaya luar, ketegangan afiliasi keagamaan, dan migrasi penduduk muda ke perkotaan, yang direspons masyarakat melalui strategi pelestarian seperti festival budaya, pendidikan, dan digitalisasi pengetahuan adat. Penelitian ini menegaskan bahwa tradisi Ngamuan Gunung Perak tetap dihormati lintas generasi sebagai representasi penting identitas budaya Dayak Ma’anyan yang diwariskan secara berkelanjutan dari generasi ke generasi.
Copyrights © 2026