Permasalahan kehabisan stok pada produk representatif (best seller) dan kelebihan stok pada produk berpermintaan rendah sering dihadapi perusahaan manufaktur minuman teh kemasan karena perencanaan produksi yang belum terintegrasi dengan baik antara permintaan, kapasitas, dan persediaan. Penelitian ini bertujuan menentukan metode peramalan terbaik serta strategi perencanaan agregat yang menghasilkan biaya total paling rendah dalam memenuhi permintaan produk Teh Celup A selama periode Mei 2025 hingga April 2026 di PT XYZ. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif-kuantitatif dengan data permintaan, kapasitas produksi, persediaan, tenaga kerja, dan komponen biaya yang diperoleh dari bagian Supply Chain Management perusahaan. Peramalan permintaan dihitung menggunakan metode moving average, exponential smoothing, dan trend analysis, kemudian dipilih metode dengan nilai MAD, MSE, dan MAPE terkecil sebagai dasar penyusunan perencanaan agregat dengan bantuan software POM-QM for Windows, menggunakan dua alternatif strategi yaitu level strategy dan chase strategy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode trend analysis merupakan metode peramalan paling akurat dengan MAPE sebesar 7,22%, menghasilkan total permintaan 2.210.806 unit atau rata-rata 184.234 unit per bulan. Perbandingan strategi perencanaan agregat menunjukkan bahwa level strategy menghasilkan total biaya sebesar Rp67.881.880.000, jauh lebih rendah dibandingkan chase strategy yang menghasilkan total biaya sebesar Rp632.954.900.000 akibat munculnya biaya shortage dan penambahan kapasitas. Level strategy dipilih sebagai strategi perencanaan agregat paling optimal karena mampu memenuhi seluruh permintaan pelanggan tanpa terjadi kekurangan persediaan (shortage).
Copyrights © 2026