Fenomena fandom K-pop menunjukkan bahwa komunitas penggemar tidak hanya berfungsi sebagai konsumen budaya populer, tetapi juga sebagai ruang sosial tempat identitas dan solidaritas kelompok dibangun. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana simbol-simbol fandom dimaknai oleh anggota komunitas ARMY di Jakarta serta bagaimana simbol tersebut membentuk hubungan sosial dalam komunitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan perspektif interaksionisme simbolik dari Herbert Blumer dan George Herbert Mead. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan anggota ARMY di Jakarta yang aktif dalam kegiatan fandom. Hasil penelitian menunjukkan bahwa simbol fandom, seperti slogan, warna identitas, merchandise, gaya berpakaian, dan penggunaan bahasa Korea, dimaknai sebagai bentuk identitas dan keterikatan emosional terhadap BTS. Simbol-simbol tersebut memperkuat interaksi sosial, membangun pemahaman identitas bersama, serta memperkuat solidaritas kelompok. Penelitian ini menegaskan relevansi interaksionisme simbolik dalam memahami pembentukan identitas kolektif dalam komunitas penggemar digital.
Copyrights © 2026