Gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat merupakan kumpulan narasi yang berisi keresahan dan tuntutan masyarakat yang dirumuskan secara kolektif oleh aliansi mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil terkait persoalan struktural, seperti kesenjangan ekonomi, menurunnya kepercayaan terhadap lembaga negara, dan krisis kemanusiaan yang disebarkan melalui Instagram pada September 2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses komunikasi simbolik dalam gerakan tersebut menggunakan Teori Konvergensi Simbolik oleh Ernest G. Bormann dan konsep Computer Mediated Communication (CMC). Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivisme. Data dikumpulkan melalui observasi online, dokumentasi unggahan Instagram, dan studi pustaka, kemudian diuji menggunakan triangulasi sumber dan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instagram menjadi ruang komunikasi digital dalam membangun solidaritas kolektif melalui simbol visual, hashtag, caption, dan narasi bersama. Fantasy theme terbentuk melalui narasi ketidakadilan struktural dan kritik terhadap elit politik, lalu menyebar melalui repost dan interaksi pengguna hingga membentuk fantasy chain. Pengulangan narasi menghasilkan fantasy type berupa konflik rakyat versus elit dan solidaritas kolektif. Keseluruhan proses tersebut mengkristal menjadi rhetorical vision tentang perjuangan bersama menuju keadilan sosial di era digital.
Copyrights © 2026