Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REPRESENTASI SOLIDARITAS DIGITAL DI INSTAGRAM: ANALISIS TEORI KONVERGENSI SIMBOLIK PADA FENOMENA 17+8 TUNTUTAN RAKYAT Fara Dilla Fairuz; Parsaoran Gultom
KOMUNIKATA57 Vol. 7 No. 1 (2026): KOMUNIKATA57
Publisher : FISIP IBI-K57 Prodi Komunikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55122/kom57.v7i1.2121

Abstract

Gerakan 17+8 Tuntutan Rakyat merupakan kumpulan narasi yang berisi keresahan dan tuntutan masyarakat yang dirumuskan secara kolektif oleh aliansi mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil terkait persoalan struktural, seperti kesenjangan ekonomi, menurunnya kepercayaan terhadap lembaga negara, dan krisis kemanusiaan  yang disebarkan melalui Instagram pada September 2025. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses komunikasi simbolik dalam gerakan tersebut menggunakan Teori Konvergensi Simbolik oleh Ernest G. Bormann dan konsep Computer Mediated Communication (CMC). Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan paradigma konstruktivisme. Data dikumpulkan melalui observasi online, dokumentasi unggahan Instagram, dan studi pustaka, kemudian diuji menggunakan triangulasi sumber dan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Instagram menjadi ruang komunikasi digital dalam membangun solidaritas kolektif melalui simbol visual, hashtag, caption, dan narasi bersama. Fantasy theme terbentuk melalui narasi ketidakadilan struktural dan kritik terhadap elit politik, lalu menyebar melalui repost dan interaksi pengguna hingga membentuk fantasy chain. Pengulangan narasi menghasilkan fantasy type berupa konflik rakyat versus elit dan solidaritas kolektif. Keseluruhan proses tersebut mengkristal menjadi rhetorical vision tentang perjuangan bersama menuju keadilan sosial di era digital.
Edukasi Literasi Media sebagai Upaya Pencegahan Hoaks di Era Digital pada Anggota Yayasan Roemah Tawon Kota Tangerang Parsaoran Gultom; Fara Dilla Fairuz; Syaifuddin Syaifuddin
Jurnal Pengabdian Masyarakat (ABDIRA) Vol 6, No 2 (2026): Abdira
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdira.v6i2.1699

Abstract

The development of Information and Communication Technology has changed the way people communicate and receive information, making the spread of hoaxes easier. Low awareness of fact-checking, particularly among individuals with high levels of social media use, poses a challenge to digital media literacy. This condition is also found among members of the Roemah Tawon Foundation, who have a limited understanding of media literacy in the digital era. This community service activity aims to enhance media literacy by improving participants' ability to distinguish between hoax and valid information. The activity was implemented through socialization or counseling using an interactive lecture approach. The target participants were housewives and elementary and secondary school students who are members of the Roemah Tawon Foundation in Tangerang city. The results indicate an increase in participants’ understanding of how to differentiate between hoax and valid information, as demonstrated by their ability to answer questions and actively engage in discussions. This improvement is expected to foster greater awareness in applying the 3C principle (check, compare, and confirm) before sharing information.