Pendidikan inklusif menuntut kesiapan sekolah dan keluarga dalam mendukung perkembangan akademik sekaligus kesehatan mental anak. Namun, keterbatasan pemahaman guru dan orang tua mengenai kesehatan mental anak serta kurangnya pendekatan yang sensitif terhadap konteks budaya sering menjadi kendala dalam praktik pendidikan inklusif. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan guru dan orang tua melalui psikoedukasi responsif budaya guna mendukung kesehatan mental anak di kelas inklusif. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif dan pemberdayaan yang melibatkan guru dan orang tua sebagai subjek aktif dalam asesmen kebutuhan, pelaksanaan psikoedukasi, refleksi, dan evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman dan kesadaran guru serta orang tua mengenai pentingnya kesehatan mental anak, serta meningkatnya kesiapan mereka dalam menciptakan lingkungan belajar dan pengasuhan yang lebih inklusif dan suportif. Psikoedukasi responsif budaya membantu peserta memahami isu kesehatan mental anak secara kontekstual dan aplikatif sesuai dengan nilai dan praktik kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini berkontribusi pada penguatan kolaborasi sekolah dan keluarga serta pengembangan praktik pendidikan inklusif yang berorientasi pada kesejahteraan mental anak
Copyrights © 2026