Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik pendidikan inklusif dan multikulturalisme di sekolah perbatasan Indonesia–Timor Leste serta mengidentifikasi tantangan implementasinya di wilayah perbatasan. Selain itu, penelitian ini juga mengkaji peran teknologi digital dan kontribusi kearifan lokal dalam mendukung proses pembelajaran yang lebih adaptif dan kontekstual. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan kombinasi etnografi dan netnografi. Lokasi penelitian meliputi enam SMP Negeri di Kabupaten Belu dan Malaka, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Informan terdiri atas kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, siswa, orang tua, pejabat Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, serta komunitas digital yang terkait. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dokumentasi, dan observasi digital, kemudian dianalisis menggunakan NVivo 12 Pro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik inklusif telah diterapkan melalui pembelajaran heterogen, pemerataan kesempatan belajar, dan penanaman nilai toleransi. Kearifan lokal dan kepemimpinan sekolah berperan penting dalam membangun budaya inklusif. Namun, implementasi masih menghadapi tantangan seperti keterbatasan kompetensi guru, minimnya sarana, budaya kekerasan, serta kesenjangan literasi digital. Teknologi digital berpotensi memperkuat partisipasi warga sekolah meskipun belum optimal. Penelitian ini menegaskan bahwa pendidikan inklusif dipengaruhi interaksi antara kearifan lokal, kepemimpinan, budaya sekolah, dan teknologi digital, dengan integrasi etnografi dan netnografi sebagai kebaruan penelitian.
Copyrights © 2026