Penelitian ini membahas kesenjangan antara paradigma toleransi dan realitas konflik dalam masyarakat majemuk, khususnya dalam kehidupan antarumat beragama di Indonesia. Toleransi pada dasarnya merupakan sikap saling menghargai, menghormati, dan menerima perbedaan agama, budaya, serta pandangan hidup demi terciptanya kehidupan yang harmonis. Namun, dalam praktiknya masih sering terjadi konflik sosial, diskriminasi, penolakan pendirian rumah ibadah, dan berbagai bentuk intoleransi yang menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara nilai toleransi yang diajarkan dengan realitas sosial yang terjadi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif melalui studi pustaka dari berbagai sumber, seperti buku, jurnal ilmiah, artikel, dan penelitian terdahulu yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya pemahaman terhadap keberagaman, fanatisme yang berlebihan, prasangka sosial, serta kurangnya interaksi antarumat beragama menjadi faktor utama munculnya konflik dalam masyarakat majemuk. Di sisi lain, Pendidikan Agama Kristen (PAK) memiliki peran penting dalam menanamkan nilai kasih, penghormatan terhadap sesama, dan sikap toleransi sebagaimana diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus. Tokoh agama, lembaga pendidikan, pemerintah, dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab bersama dalam membangun dialog, memperkuat kerja sama sosial, serta menciptakan budaya hidup damai di tengah keberagaman. Dengan demikian, penerapan nilai toleransi secara nyata dalam kehidupan sehari-hari menjadi kunci utama dalam menjaga persatuan, kerukunan, dan keharmonisan masyarakat Indonesia yang majemuk.
Copyrights © 2026