Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program prioritas nasional yang diinisiasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sebagai upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi peserta didik. Program ini memiliki potensi besar dalam mengurangi angka stunting, meningkatkan status gizi, memperbaiki konsentrasi belajar, dan mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia menuju Indonesia Emas 2045. Namun demikian, implementasi MBG menghadapi berbagai tantangan, mulai dari pengelolaan anggaran, distribusi makanan, ketersediaan tenaga ahli gizi, pengawasan mutu pangan, hingga efektivitas pelaksanaan di daerah. Tulisan ini bertujuan mengkaji alternatif model pengelolaan MBG melalui pelibatan orang tua peserta didik sebagai mitra utama Badan Gizi Nasional (BGN). Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif terhadap berbagai literatur ilmiah, kebijakan pemerintah, dan hasil penelitian terdahulu mengenai program makan sekolah. Hasil kajian menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua berpotensi meningkatkan kualitas menu sesuai kebutuhan anak, memperkuat pengawasan penggunaan anggaran, meningkatkan rasa tanggung jawab keluarga terhadap pemenuhan gizi, serta mengurangi kompleksitas birokrasi distribusi makanan. Model tersebut tetap memerlukan standar nasional mengenai kandungan gizi, mekanisme pengawasan, serta sistem evaluasi yang terintegrasi agar tujuan program tetap tercapai. Oleh karena itu, pengelolaan MBG berbasis keluarga dapat dipertimbangkan sebagai alternatif kebijakan yang lebih adaptif, efisien, dan berkelanjutan.
Copyrights © 2026