Krisis merupakan situasi yang dapat mengancam reputasi organisasi dan menuntut respons komunikasi yang cepat serta efektif. Kebakaran Kilang Pertamina Internasional Unit Dumai menjadi perhatian publik karena memunculkan berbagai pemberitaan dan respons masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi komunikasi krisis PT Pertamina (Persero) dengan menggunakan perspektif Situational Crisis Communication Theory (SCCT). Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif deskriptif analitis melalui studi dokumentasi dari media daring, pernyataan resmi perusahaan, dan komunikasi digital selama penanganan krisis. Analisis isi digunakan untuk mengkategorikan temuan berdasarkan strategi respons krisis dalam SCCT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pertamina menerapkan kombinasi strategi diminish dan rebuild. Strategi diminish digunakan untuk menurunkan persepsi ancaman melalui penegasan kondisi terkendali dan minimnya korban, sedangkan strategi rebuild diwujudkan melalui tindakan korektif, koordinasi lintas pihak, serta komunikasi terbuka melalui media massa dan media sosial. Media digital berperan penting dalam mendukung efektivitas komunikasi krisis dengan penyebaran informasi cepat dan transparan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa strategi komunikasi krisis Pertamina sesuai prinsip SCCT, khususnya dalam meredam kepanikan publik dan memulihkan kepercayaan. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan kajian komunikasi krisis sektor energi serta menjadi referensi praktis bagi organisasi dalam merancang strategi komunikasi yang efektif.Kata Kunci: Manajemen Krisis, Public Relations, Komunikasi Krisis, Reputasi Perusahaan, SCCT.
Copyrights © 2026