Masalah kesehatan remaja putri di dunia masih didominasi anemia defisiensi besi, terutama di negara berkembang akibat ketidakseimbangan kebutuhan pertumbuhan dan asupan nutrisi. Di Indonesia, prevalensi anemia pada remaja putri usia 15–24 tahun mencapai 32%, sehingga berisiko menimbulkan gangguan kesehatan reproduksi dan stunting di masa depan. Observasi di Rusunawa Ciseureuh menunjukkan sebagian besar remaja putri belum memiliki pemetaan kadar hemoglobin (Hb) secara klinis karena keterbatasan alat skrining serta rendahnya aktivitas fisik rutin. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatkan kualitas kesehatan reproduksi dan memutus risiko anemia melalui program SERUNI (Senam Reproduksi Masa Kini). Metode yang digunakan meliputi edukasi partisipatif, skrining Hb digital, intervensi senam SERUNI, dan pemberdayaan kader berbasis monitoring kesehatan. Hasil menunjukkan peningkatan literasi kesehatan kategori “Baik” dari 11% menjadi 89% serta penurunan prevalensi anemia dari 72% menjadi 23%. Kesimpulannya, program SERUNI CISEUREUH efektif meningkatkan literasi kesehatan reproduksi, aktivitas fisik, penurunan anemia, dan kemandirian kader secara berkelanjutan di komunitas Rusunawa Ciseureuh.
Copyrights © 2026