Industri farmasi menghadapi persaingan ketat, sehingga efektivitas mesin menjadi kunci untuk menjaga produktivitas dan kualitas produk. Downtime dapat menurunkan kinerja, yang diukur melalui Overall Equipment Effectiveness (OEE). Penelitian ini menganalisis Planned dan Unplanned Downtime yang mempengaruhi OEE pada mesin LB-1 dan LB-2 di Industri Farmasi PT. Z periode Januari - Desember 2025. Analisis menggunakan grafik Pareto untuk mengidentifikasi penyebab downtime tertinggi, kemudian dievaluasi dengan metode 5 Why Analysis untuk menemukan akar masalah dan rekomendasi continuous improvement. Hasil menunjukkan nilai OEE rata-rata LB-1 sebesar 71,51% dan LB-2 sebesar 70,40%. Planned downtime tertinggi didominasi lunch and breaks, CIL (cleaning, inspection, and lubrication), material change dan change batch, sedangkan unplanned downtime didominasi oleh unplanned stops, breakdown, dan process instability. Upaya continuous improvement difokuskan pada peningkatan kompetensi operator melalui multiskilling dan pergantian shift saat istirahat, optimalisasi autonomous maintenance, Single Minute Exchange of Die (SMED) untuk menekan waktu changeover, standarisasi parameter melalui centerlining, penguatan monitoring dan kontrol proses, inspeksi fungsional rutin, pengetatan spesifikasi material, optimalisasi preventive maintenance dan breakdown maintenance dan optimalisasi Poka Yoke untuk mencegah cacat sejak awal. Pemantauan OEE secara berkala terbukti menjadi strategi efektif dalam menurunkan downtime dan meningkatkan nilai OEE secara berkelanjutan.
Copyrights © 2026