Penelitian ini membahas paradoks dalam hubungan interdependensi ekonomi antara Amerika Serikat dan Tiongkok, khususnya dalam konteks perang dagang sejak 2018. Meskipun kedua negara adidaya memiliki tingkat ketergantungan ekonomi yang sangat tinggi, konflik tetap terjadi dalam bentuk tarif balasan, pembatasan ekspor teknologi, dan sanksi terhadap perusahaan strategis. Kondisi ini menunjukkan adanya kegagalan teori interdependensi kompleks dalam menjelaskan realitas kontemporer, karena teori tersebut mengasumsikan bahwa saling ketergantungan akan menurunkan potensi konflik antar negara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus dan analisis konseptual terhadap teori complex interdependence Keohane dan Nye, dan weaponized interdependence Farrell dan Newman. Temuan menunjukkan bahwa ketimpangan dalam struktur jaringan global telah memberikan negara dominan, seperti Amerika Serikat, kemampuan untuk menggunakan ketergantungan sebagai alat koersif. Konsep panopticon effect dan chokepoint effect menjelaskan bagaimana Amerika Serikat memanfaatkan posisi sentralnya dalam sistem keuangan dan teknologi global untuk membatasi akses dan mengawasi lawan strategisnya. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengusulkan pembaruan konseptual melalui kerangka complex coercive interdependence, yaitu pemahaman bahwa interdependensi yang kompleks juga dapat dimanfaatkan secara koersif oleh negara yang memiliki kontrol atas simpul-simpul penting dalam jaringan global. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi teoritis dalam memperkaya kajian hubungan internasional, khususnya dalam memahami dinamika kekuasaan di era globalisasi dan rivalitas antara kekuatan besar.
Copyrights © 2026