Artikel ini mengkaji manajemen konflik dalam lembaga pendidikan Islam melalui perspektif hadis Nabi Muhammad saw. dengan fokus pada relevansi keteladanan profetik sebagai kerangka resolusi konflik yang kontekstual dan berbobot nilai. Konflik merupakan realitas yang tak terelakkan dalam setiap organisasi, termasuk institusi pendidikan. Apabila tidak dikelola secara tepat, konflik berpotensi menggerus produktivitas, merusak harmoni hubungan antarindividu, dan menghambat pencapaian visi kelembagaan. Di tengah dominasi teori manajemen konflik modern yang bersifat teknis hingga prosedural, kajian ini menawarkan sudut pandang alternatif dengan menggali kekayaan khazanah hadis sebagai sumber nilai yang holistik, kontekstual, dan berakar pada dimensi spiritual. Penelitian ini mengidentifikasi lima gaya manajemen konflik yang relevan dengan praktik kepemimpinan pendidikan Islam, yaitu kolaborasi (musyawarah), mengakomodasi (tasamuh), mendominasi (tahkim), menghindari (tabayyun), dan kompromi (wasatiyyah). Masing-masing gaya memiliki basis dalil yang kokoh dari hadis Nabi dan sejarah kepemimpinan profetik. Temuan kajian menekankan bahwa kepemimpinan pendidikan yang efektif dan bermartabat meniscayakan pemimpin yang tidak sekadar berperan sebagai manajer administratif, melainkan juga sebagai mediator inklusif yang meneladani sikap lemah lembut (rifq), kejujuran, dan kebijaksanaan Rasulullah Saw. Integrasi antara ketegasan manajerial dan kelembutan mediasi terbukti mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang stabil, produktif, dan harmonis.
Copyrights © 2026