Siswa tunarungu cenderung mengalami kesulitan dalam menerima materi pembelajaran yang disampaikan melalui suara, seperti pengucapan huruf hijaiyah dan intonasi bacaan dalam proses Baca Tulis Al-Qur'an (BTA). Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi guru karena metode pembelajaran di kelas umum tidak dapat begitu saja diterapkan kepada siswa yang tidak dapat mendengar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian lapangan. Data dikumpulkan dari kepala sekolah, guru BTA, siswa tunarungu kelas B, dan orang tua siswa melalui observasi lebih dari tiga kali, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik triangulasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar utama yang digunakan adalah buku Iqra, yang penyampaiannya disesuaikan dengan kondisi siswa tunarungu. Guru memadukan tiga metode secara bersamaan, yaitu metode demonstrasi, metode bahasa isyarat, dan metode gerak bibir, serta menerapkan pendekatan individual untuk memberikan bimbingan satu per satu karena kemampuan setiap siswa berbeda-beda. Faktor pendukung pembelajaran meliputi tersedianya buku panduan dari Kementerian Agama RI, kesabaran guru, kemampuan visual siswa, dan dukungan orang tua. Adapun hambatan yang ditemui antara lain kebingungan siswa dalam membedakan isyarat Arab dengan isyarat abjad sehari-hari, sulitnya mengajarkan panjang pendek bacaan tanpa suara, serta perbedaan kemampuan awal antar siswa.
Copyrights © 2026