Pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) menuntut pemelajar mampu membaca makna implisit yang tertanam secara budaya, namun tradisi keagamaan Jawa belum dimanfaatkan untuk tujuan ini. Fokus pada kawasan Solo Raya, Jawa Tengah, penelitian ini menganalisis konstruksi makna tradisi keagamaan lokal dan menteorikan nilainya sebagai bahan ajar BIPA tingkat lanjut. Penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan semiotika Roland Barthes (denotasi, konotasi, dan mitos) dengan data dari wawancara mendalam, observasi visual, dokumentasi, dan studi pustaka yang dianalisis melalui reduksi, kategorisasi, interpretasi tanda, dan penyimpulan. Analisis terhadap tradisi-tradisi lokal di Solo Raya saling berkelindan antara tradisi Jawa dan Islam, dan harus mampu dibaca pemelajar tingkat lanjut. Berbasis kerangka semiotik-pedagogis yang menyelaraskan progresi Barthes dari denotasi ke mitos dengan kompetensi simbolik (Kramsch), tradisi-tradisi tersebut dapat dijadikan bahan ajar BIPA dalam mengembangkan kompetensi linguistik, antarbudaya, dan simbolik pemelajar asing dalam menafsirkan makna implisit serta berkomunikasi dalam konteks sosiokultural Jawa-Islam.
Copyrights © 2026