Penelitian ini mengkaji kesenjangan literasi digital guru dan siswa dalam pembelajaran di Madrasah Aliyah Al Chusnan Sidabowa, Banyumas, melalui perspektif sosiologi lembaga pendidikan. Fokus penelitian diarahkan pada persoalan bahwa kepemilikan perangkat digital tidak selalu diikuti oleh kemampuan menggunakan teknologi secara produktif, kritis, dan etis untuk kegiatan belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data diperoleh melalui observasi kelas, wawancara dengan kepala madrasah, guru, siswa, orang tua, serta dokumentasi kebijakan dan praktik kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, sebagian siswa memiliki gawai, tetapi penggunaannya masih dominan untuk komunikasi dan hiburan sehingga belum sepenuhnya mendukung produksi pengetahuan. Kedua, guru menghadapi keterbatasan pelatihan dan pendampingan dalam merancang pembelajaran berbasis teknologi. Ketiga, kualitas jaringan internet dan dukungan keluarga memengaruhi partisipasi siswa dalam pembelajaran digital. Temuan ini menegaskan bahwa kesenjangan literasi digital merupakan persoalan sosial, pedagogis, dan kelembagaan, bukan sekadar persoalan teknis. Penguatan literasi digital madrasah perlu dilakukan melalui pelatihan guru berkelanjutan, kebijakan kelembagaan yang jelas, serta kolaborasi antara madrasah dan keluarga.
Copyrights © 2026