Penelitian ini mengkaji penggunaan mashdar dalam Al-Qur'an sebagai unsur kebahasaan yang merepresentasikan esensi ibadah. Fokus kajian diarahkan pada empat mashdar utama, yaitu ibadah, dhikr, du'a, dan sabr, karena keempatnya mewakili dimensi konseptual, spiritual, relasional, dan psikologis dalam ibadah. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka. Data utama berupa ayat Al-Qur'an yang memuat bentuk mashdar atau derivasi kata yang berkaitan dengan ibadah, sedangkan data pendukung berasal dari literatur morfologi Arab, semantik Al-Qur'an, dan penelitian terdahulu. Analisis dilakukan melalui identifikasi bentuk kata, klasifikasi pola wazan, penafsiran fungsi linguistik, dan pembacaan semantik berdasarkan konteks ayat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mashdar dalam ayat-ayat ibadah tidak hanya berfungsi sebagai nomina verbal, tetapi juga membentuk makna yang abstrak, universal, dan berkelanjutan. Mashdar ibadah menegaskan penghambaan total sebagai orientasi hidup manusia; dhikr menunjukkan kesadaran batin terhadap kehadiran Allah; du'a menggambarkan komunikasi responsif antara hamba dan Tuhan; sedangkan sabr merepresentasikan daya tahan spiritual yang menopang keberlanjutan ibadah. Temuan ini memperlihatkan bahwa analisis linguistik atas mashdar dapat memperkaya pemahaman mengenai ibadah sebagai konsep yang melampaui ritual formal dan mencakup kesadaran batin serta perilaku hidup secara menyeluruh.
Copyrights © 2026