Penelitian ini menganalisis strategi pemulihan citra (image restoration) yang diterapkan AQUA (PT Tirta Investama/Danone Indonesia) dalam merespons polemik sumber air yang dipicu inspeksi mendadak Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi pada Oktober 2025. Kasus ini menarik karena tuduhannya terbelah: secara faktual (sumber air) kemudian divalidasi sah oleh Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), tetapi secara persepsi narasi iklan “mata air pegunungan” dianggap bermasalah. Dengan metode analisis isi kualitatif deskriptif-interpretatif berdasarkan tipologi Benoit (1995), penelitian memetakan sebelas tindakan pemulihan citra AQUA pada periode 20 Oktober–13 November 2025, dan menilai kesesuaiannya terhadap tolok ukur efektivitas Benoit dan Drew (1997) serta lensa Situational Crisis Communication Theory (Coombs, 2007). Hasil menunjukkan strategi AQUA bersifat multivalen, sebagian besar tindakan menyatukan dua hingga tiga strategi sekaligus. Dengan dominasi bolstering dan differentiation, disertai simple denial, transcendence, dan satu attacking the accuser, sementara dua strategi yang dinilai paling efektif, mortification dan corrective action, sama sekali tidak digunakan. Komposisi ini selaras dengan situasi pada dimensi faktual yang kontestabel, tetapi tidak selaras pada dimensi persepsi yang keliru. Penelitian menyimpulkan bahwa kesesuaian strategi pemulihan citra bergantung pada dimensi krisis, dan bahwa hasil yang relatif menguntungkan AQUA lebih dapat dijelaskan oleh fakta yang berpihak daripada oleh ketepatan strateginya.
Copyrights © 2026