Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis retorika isu ‘cumi cumi darat’ dalam debat publik pertama Pemilihan Wali Kota Semarang. Penelitian ini menganalisis bagaimana masing-masing kandidat menggunakan unsur kredibilitas (ethos), emosi (pathos), dan logika (logos) dalam menanggapi berbagai isu penting di kota, seperti pengelolaan lingkungan dan fenomena emisi transportasi “cumi-cumi darat” menggunakan teori retorika Aristoteles. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis teks retorika terhadap transkrip resmi debat. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan alur persuasi yang radikal di antara kedua belah pihak. Pasangan Calon 01 menerapkan alur teknokratis-struktural (top-down) yang berhulu pada logos berupa rasionalitas fiskal dan data makro guna menopang ethos berbasis phronesis (kebijaksanaan birokrasi) demi menyentuh empati keadilan sosial (pathos). Sebaliknya, Pasangan Calon 02 memilih alur populis-kultural (bottom-up) yang menjadikan pathos sebagai hulu melalui teknik phantasiai (metafora populer) untuk memantik keresahan warga, sebelum mengonversinya menjadi ethos berbasis diligentia (kesungguhan bekerja) dan jaminan politik pusat, lalu ditutup dengan logos praktis berupa lompatan teknologi. Studi ini menyimpulkan bahwa efektivitas komunikasi politik di panggung debat tidak hanya ditentukan oleh keunggulan data mentah, melainkan oleh kecerdasan kandidat dalam menyelaraskan struktur pesan dengan karakteristik psikologis audiens yang disasar, baik kelompok pemilih rasional maupun massa akar rumput.
Copyrights © 2026