Kemampuan motorik halus merupakan fondasi krusial yang menopang kesiapan akademik dan kemandirian anak usia dini. Namun, banyak anak kelompok B (usia 5–6 tahun) masih menunjukkan keterlambatan dalam koordinasi otot-otot kecil, khususnya koordinasi mata-tangan, kemampuan menjumput benda kecil (pincer grasp), serta ketekunan dalam menyelesaikan tugas mandiri. Artikel ini bertujuan menganalisis secara kritis efektivitas kegiatan kolase biji-bijian sebagai media stimulasi motorik halus anak usia 5–6 tahun, dengan mengacu pada hasil penelitian lapangan di TK Al Hidayah Klemunan, Kabupaten Blitar, yang dilaksanakan pada Mei 2026. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui observasi partisipatif pasif, wawancara semi terstruktur dengan guru kelas, serta dokumentasi proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kolase biji-bijian yang dirancang secara sistematis mulai dari tahap perencanaan RPPH yang adaptif, pelaksanaan yang berpusat pada anak, hingga evaluasi ganda berbasis proses dan produk mampu menstimulasi lima indikator utama motorik halus secara signifikan: koordinasi visual motorik, pincer grasp, koordinasi bilateral, daya tahan motorik, serta kemandirian bantu diri (self help skills). Temuan ini diperkuat oleh kerangka teoritis Elizabeth Hurlock, Richard Magill, dan Sumantri yang menegaskan bahwa media berbasis bahan alam dengan variasi tekstur menghasilkan rangsangan sensorik yang lebih kaya dibanding media konvensional. Artikel ini merekomendasikan penggunaan kolase biji-bijian sebagai intervensi motorik terstruktur di lembaga PAUD secara nasional.
Copyrights © 2026