Generasi Z sebagai penduduk asli digital menghadapi tekanan sosial yang signifikan dalam mengelola citra di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena penggunaan multi-akun Instagram sebagai strategi fragmentasi identitas digital dengan menggunakan teori dramaturgi Erving Goffman yang didukung oleh konsep manajemen identitas digital. Melalui metode studi literatur, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana akun utama (main account) dan akun kedua (second account/finsta) berfungsi sebagai panggung yang berbeda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa akun utama digunakan untuk pertunjukan panggung depan (front stage) guna membangun personal branding, sementara akun kedua berfungsi sebagai panggung belakang (back stage) untuk ekspresi diri yang lebih autentik, spontan, dan privat di kalangan lingkaran terdekat. Fragmentasi ini merupakan respons strategis untuk menavigasi penilaian sosial dan menjaga privasi digital. Namun, hal ini juga membawa implikasi seperti digital burnout dan ambiguitas identitas.
Copyrights © 2026